Investasi di pasar modal menjanjikan imbal hasil (return) yang paling tinggi. Bahkan mengalahkan investasi logam mulia, emas sekalipun. Namun fokuslah pada saham-saham komoditas dan semen.
Demikian disampaikan Vice President Research and Analyst PT Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere dalam temu investor di Hotel Mercure, Pontianak, Jumat (6/5/2011).
"Investasi di pasar modal telah tumbuh sangat tinggi, bahkan mengalahkan emas. Tidak ada yang lebih menjanjikan investasi saham," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat lebih memilih deposito. Iya sewaktu krisis deposito bunga tinggi, namun terus-menerus turun. Saat ini, 6-7%. Inflasinya 6%, jadi tidak mendapat apa-apa," ujarnya.
Untuk lima tahun ke depan, investor sebaiknya memfokuskan pada saham-saham komoditas. Alasannya, komoditi batu bara atau CPO masih menjadi penopang energi dunia.
"Batu bara, CPO. Mana saham CPO yang paling baik? Menurut saya adalah London Sumatera. Mereka memiliki kinerja yang baik," tuturnya.
Salain itu, saham-saham properti dan semen menjanjikan di masa mendatang. "Saya sangat suka saham Alam Sutera. Saat ini, setiap orang memerlukan rumah, jadi sangat menjanjikan. Semen, seperti Indocement, perputaran kasnya sangat tinggi, kalau tidak salah tahun ini mencapai Rp 3 triliun," ucap Nico.
Kasus bom juga tidak lagi menjadi faktor menurunnya IHSG. Pasalnya, kini investor sangat realistis. "Mereka lebih pilih cuek," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, ia memprediksi inflasi Indonesia akan menyentuh level 8% hingga akhir tahun 2011. Namun naiknya inflasi masih terkendali, seiring dengan meningkatkan ekonomi Indonesia.
"Inflasi hingga akhir tahun masih terkendali, tidak lebih dari 8%," katanya.
Dalam dua bulan terakhir, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatat deflasi. Dengan demikian, bisa saja inflasi hingga akhir tahun hanya 7%. Angka ini pun masih jauh dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
"Jepang, Eropa, Amerika Serikat akan terus mencatat inflasi tinggi. Mereka jangan-jangan terus tingkatkan peredaran uang hingga menyebabkan peningkatan inflasi. Cetak uang dilakukan untuk menutupi defisit anggaran mereka. Kemudian nilai mata uang turun," paparnya.
Khusus Indonesia, inflasi yang naik disebabkan oleh naiknya harga bahan bakar. Pasalnya bahan bakar menjadi kebutuhan seluruh masyarakat.
Ia menilai, mata uang rupiah makin perkasa dibandingkan periode sebelum krisis 2008. Bank Indonesia (BI) juga akan membiarkan rupiah terus menguat, namun secara perlahan.
"Indonesia posisi fiskalnya pun kokoh, dimana rasio utang terhadap PDB masih terkendali. Aliran dana dari luar negeri juga makin deras, sebagai akibatnya Indonesia kini adalah negara dengan jumlah cadangan devisa terbesar ke-16 di dunia," ucapnya.
"Dan satu alasan lagi, yang paling penting, Indonesia sebentar lagi akan mendapatkan investment grade, jadi jangan ketinggalan momentum untuk mencari keuntungan lewat investasi di saham," imbuh Nico.











































