Demikian disampaikan Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono usai due dilligence obligasi perseroan, di Hotel Ritz Calton, SCBD Jakarta, Kamis (12/5/2011).
Menurutnya, modal tambahan perseroan ke depan mencapai Rp 650 miliar. Ini didapat dari dua sumber, yakni suntikan dana dari pemegang saham (Pemprov DKI) dan penawaran saham perdana kepada publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"IPO menjadi corporate action perseroan. Ini dilakukan untuk meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) kami yang akan kami jaga di 14%," jelasnya.
Pelaksaan IPO yang berlarut-larut karena perseroan masih menunggu PMP dari Pemprov DKI Jakarta. PMP diharapkan cair pada akhir 2011.
"Kita harus dapat PMP dulu, agar porsi Pemprov (kepemilkan) tidak terdelusi terlalu tinggi. Awal 2012 IPO, namun nanti tergantung market," paparnya.
Sementara, Direktur Pemasaran Bank DKI Mulyatno Wibowo menambahkan perseroan menargetkan pertumbuhan kredit 33% menjadi Rp 8,8 triliun hingga akhir tahun 2011. Kredit tersebar secara merata pada sektor konsumer, komersial, ritel dan syariah.
Ia menambahkan, Bank DKI siap membiayai beberapa proyek infrastruktur. Tidak hanya di Jakarta, tapi di luar Jawa. Satu proyek yang telah mendapatkan komitmen adalah PLTU yang berlokasi di Kalimantan Timur. Perseroan akan membiayai US$ 17,5 juta dari total investasi US$ 35 juta.
"Ada juga PLTU di Kalimantan Tengah, nilai investasi US$ 60 juta. Namun porsi bank DKI belum, sedang negosiasi. Kami juga berniat membiayai proyek pembangunan jalan tol JORR WII. Kredit yang kita siapkan sekitar Rp 200 miliar. Totalnya belum, karena pemilik Jasa Marga dengan BUMD, masih terus menghitung," imbuh Mulyatno.
(wep/ang)











































