IHSG Ditutup di Level 700
Kamis, 17 Jun 2004 16:27 WIB
Jakarta - Meski mengalami penurunan hingga 7,750 poin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) masih bisa bertahan di level 700, tepatnya 700,137. Penurunan indeks dimotori oleh anjloknya saham-saham unggulan (bluechip) dan perbankan, seiring rencana Bank Indonesia (BI)yang akan menaikkan suku bunga SBI secara bertahap.Indeks LQ-45 yang memuat 45 saham yang paling aktif ditransaksikan turun 1,422 poin pada level 151,702, Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,436 poin pada level 114,622, Indeks Papan Utama (MBX) turun 2,422 poin pada level 190,093 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 1,237 poin pada level 159,201.Perdagangan di pasar reguler relatif sepi dengan transaksi yang terjadi sebanyak 5.825 kali pada volume 773,208 lot saham senilai Rp 421,732 miliar. Sebanyak 22 saham mencatat kenaikan harga, 65 saham mengalami penurunan harga dan 299 saham lainnya stagnan.Saham-saham yang mengalami penurunan harga di jajaran top loser di antaranya Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 6.700, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 150 menjadi Rp 13.350, Bank BRI (BBRI) turun Rp 75 menjadi Rp 1.575 dan Indosat (ISAT) turun Rp 50 menjadi Rp 3.900.Kemudian, Bank Danamon (BDMN) turun Rp 50 menjadi Rp 2.625, Bank BCA (BBCA) turun Rp 25 menjadi Rp 1.775, Bank Buana Indonesia (BBIA) turun Rp 25 menjadi Rp 625, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 25 menjadi Rp 1.125, Bank Lippo (LPBN) turun Rp 25 menjadi Rp 500 dan Bank BNI (BBNI) turun Rp 25 menjadi Rp 1.050.Sedangkan saham-saham yang masih mencatat kenaikan harga (top gainer) antara lain Ramayana (RALS) naik Rp 125 menjadi Rp 4.275, Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 25 mnejadi Rp 675 dan Bank NISP (NISP) naik Rp 5 menjadi Rp 485.Penurunan indeks dipicu oleh anjloknya saham-saham perbankan karena sentimen negatif atas kenaikan suku bunga yang akan dilakukan secara bertahap. Pasalnya, tren kenaikan suku bunga bisa mengancam pendapatan bunga bersih emiten perbankan yang berpengaruh terhadap laba usaha. Selain itu, investor juga melepas saham-saham unggulan sebagai dampak menurunnya indeks bursa-bursa regional.
(ani/)











































