Demikian disampaikan Vicky Ganda Saputra, Executive Director PT Danatama Makmur, yang merupakan penjamin pelaksana IPO saham BULL, di Jakarta, Kamis (19/5/2011).
Dengan demikian, Buana Listya Tama meraup dana Rp 937,982 miliar atas penyerapan investor institusi dari total dana IPO yang bisa dihimpun, Rp 1,03 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjutnya, investor meyakini prospek saham BULL di masa mendatang karena terjadi permintaan yang berlebih. Distribusi saham BULL selama penawaran umum juga tercatat tersebar cukup merata kepada sekitar 72 Anggota Bursa (AB). Sebelumnya, dalam periode bookbuilding juga terjadi kelebihan permintaan 6,03 kali.
"Dengan oversubcribe menunjukkan minat atau antusiasme investor akan saham IPO BULL. Selain prospek perusahaan yang sangat baik sejalan dengan implementasi penuh dari cabotage, valuasi IPO ini juga sangat attraktif. Plus masih ada tambahan bonus warrant," tuturnya.
Seperti diketahui, anak usaha PT Berlian Laju Tanker ini menetapkan harga penawaran saham perdana Rp 155 per lembar. Total saham baru yang dilepas kepada publik 6,65 miliar lembar, atau setara 37,67% dengan nilai nominal Rp 100 per lembar.
Disamping penawaran saham baru, BULL juga menyertakan 3,325 waran seri I yang akan diberikan secara cuma-cuma bagi setiap pemegang dua saham perseroan.
Setiap pemegang waran berhak untuk membeli saham perseroan dengan harga pelaksanaan Rp 170 per lembar pada periode pelaksanaan waran di 23 November 2011 sampai 24 Mei 2012. Sehingga melalui waran ini, BULL masih akan dapat memperoleh tambahan dana lagi hingga sekitar US$ 66,1 juta.
Selain Danatama sebagai Penjamin pelaksana emisi efek, JP Morgan, BNP Paribas dan Standard Chartered juga ditunjuk untuk bertindak selaku International Selling Agents dan Joint Bookrunners dalam IPO ini.
Vicky mengaku, harga IPO Rp 155 per lembar didasarkan atas price earning ratio (PER) 2011 Buana Listya Tama yang berada pada level 9,15 kali, atau didiskon dari penetapan PER rata-rata industri 15 kali. Atas perhitungan Enterprise Value to Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (EV/EBITDA) 2011 dari BULL juga mencapai 4,51 kali atau masih jauh dibawah dari valuasi industri global sejenis maupun market.
Penerapan azas cabotage merupakan prioritas kepada industri perkapalan nasional untuk melakukan segala jenis kegiatan pelayaran di perairan Indonesia, dalam kapasitasnya sebagai penunjang produksi sektor migas dan sektor industri nasional lainnya.
Rencana itu sesuai dengan Undang-Undang Pelayaran No. 17 tahun 2008 dan dipertegas dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. PM. 73 tahun 2010 yang kemudian telah diperjelas mengenai pelaksanaannya melalui Peraturan Pemerintah No.22 tahun 2011 dan Peraturan Menteri Perhubungan No. 48 tahun 2011, secara penuh telah mulai berlaku sejak 7 Mei 2011 kemarin.
Perseroan pun bersiap memanfaatkan peluang ini dengan memasukan beberapa unit kapalnya ke galangan selama 2010 untuk di-upgrade. Kapal-kapal ini akan berkontribusi penuh di 2011.
(wep/ang)











































