Dolar melemah Tertekan Buruknya Data Perekonomian AS

Dolar melemah Tertekan Buruknya Data Perekonomian AS

- detikFinance
Jumat, 20 Mei 2011 11:01 WIB
Jakarta -


Lemahnya data perekonomian AS menggiring dollar melemah versus mata uang dengan prospek suku bunga lebih menarik. Indikator tentang sektor properti dan manufaktur AS yang dirilis semalam menunjukkan angka-angka aktual yang lebih rendah dari ekspektasi sehingga menimbulkan keraguan mengenai kapan Federal Reserve akan memulai strategi jalan keluarnya.

Leading Indicators AS bulan April, untuk pertama kalinya sejak Juni 2010, mengalami penurunan. Berikutnya, data penjualan rumah dari tangan ke dua dan seterusnya turun menjadi 5,05 juta unit tahunan. Sementara indeks sektor manufaktur dari Federal Reserve distrik Philadelphia bulan Mei turun signifikan menjadi 3,9 versus 18,5 pada bulan April sebelumnya.




Data tersebut menegaskan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ekstra longgarnya, dengan suku bunga yang sangat rendah, untuk jangka waktu yang lebih lama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gubernur The Fed distrik Chicago Charles Evans mengatakan bahwa naiknya harga-harga makanan dan bahan bakar hanya bersifat sementara dan karenanya The Fed mesti mempertahankan akomodasi moneter substansial untuk sementara waktu.

Di lain pihak, anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB) Gertrude Tumpel-Gugerell mengatakan bahwa ECB harus mengakhiri prosedur kebijakan moneter non-standarnya seiring dengan membaiknya kondisi finansial. Pernyataan tersebut merupakan sinyal akan dinaikkannya tingkat suku bunga ECB.

Meski kekhawatiran mengenai krisis hutang Zona Euro di satu sisi menahan laju penguatan euro, fakta bahwa ECB masih mungkin akan menaikkan suku bunganya minimal sekali lagi tahun ini di sisi lain menahan laju melemahnya euro terhadap dollar.

ECB sendiri bulan lalu telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin, pertama kalinya sejak Juli 2008.

Terhadap dollar, euro ditutup menguat sekitar 0,4 persen di 1.4307 pada akhir sesi perdagangan Kamis.

Demikian pula versus poundsterling, dollar ditutup melemah hampir 0,4 persen di 1.6227. Sedangkan dollar Australia ditutup menguat sekitar 0,3 persen di 1.0665 terhadap dollar AS.

Bahkan lemahnya data GDP yang menunjukkan perekonomian Jepang kembali terpuruk dalam resesi, tidak mampu mengangkat dollar. GDP anual Jepang terkontraksi 3,7 persen pada kuartal I 2011, sebagai dampak dari bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang bulan Maret lalu. Jepang tercatat telah 3 kali mengalami resesi dalam satu dasawarsa terakhir.

Meski demikian, dollar justru sempat melemah hingga kisaran terendah 81.45 sebelum kemudian ditutup di 81.65 yen pada akhir sesi. (atz)




(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads