
Euro kembali terpuruk di sesi perdagangan Jumat (20/5) seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap krisis utang Zona Euro. Kekhawatiran tersebut dipicu oleh beberapa kabar terutama mengenai Yunani.
Krisis utang Yunani memasuki babak baru setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings memangkas rating utang jangka panjang Yunani sebanyak tiga tingkat dari BB+ menjadi B+ yang berarti empat tingkat di bawah investment grade. Pemangkasan rating tersebut mencerminkan beratnya tantangan yang dihadapi Yunani dalam mengimplementasikan program reformasi sruktural dan fiskal radikal yang diperlukan untuk memulihkan perekonomiannya.
Fitch Ratings menambahkan bahwa peringkat utang Yunani bisa dipangkas lagi ke depannya, jika Uni Eropa dan IMF gagal menghasilkan solusi jitu untuk mengatasi krisis utang Yunani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar negatif tentang krisis utang Zona Euro juga datang dari Spanyol. Hasil jajak pendapat menunjukkan Partai Sosialis yang berkuasa saat ini dan telah memangkas anggaran belanja demi mengatasi krisis utang, kemungkinan besar akan kalah suara dalam pemilihan regional.
Spanyol, negara dengan perekonomian terbesar ke empat di Zona Euro, digadang-gadang akan menjadi negara anggota Zona Euro berikutnya yang harus di-bailout, menyusul Yunani, Irlandia dan Portugis sebelumnya.
Terhadap dollar, euro jatuh hingga kisaran terendah 1.4129 Jumat lalu. Pada akhir sesi, euro ditutup melemah lebih dari satu persen di 1.4159 terhadap dollar.
Meski menguat cukup tajam versus euro, performa dollar terhadap mata uang utama dunia lainnya tidak lebih baik. Kondisi demikian menggambarkan bahwa penguatan tajam dollar versus euro lebih disebabkan oleh faktor melemahnya euro sendiri.
Dollar justru ditutup melemah sekitar 0,4 persen di 0.8808 terhadap franc Swiss.
Yen, sementara itu, stabil di kisaran 81.67 per dollar. Yen tidak banyak bereaksi setelah sesuai perkiraan, Bank Sentral Jepang (BoJ) Jumat lalu memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter dan tingkat suku bunganya pada level nol hingga 0,1 persen.
Sepanjang sesi perdagangan Jumat, yen bergerak dalam rentang sempit versus dollar. Di satu sisi, yen masih tertekan oleh data GDP kuartal I yang menunjukkan Jepang kembali terpuruk dalam resesi. Di sisi lain, tidak ada alasan untuk menggiring yen menguat. Para pelaku pasar juga ragu menggiring yen menguat terkait kemungkinan intervensi pemerintah jika yen menguat menembus level 80 per dollar.
Demikian pula versus poundsterling dan dollar Australia, dollar ditutup stabil di masing-masing 1.6242 dan 1.0666 pada akhir sesi perdagangan Jumat, tidak banyak bergeser dari level penutupan pada hari Kamis sebelumnya.
Khusus dollar Australia, naiknya harga emas turut memberikan support bagi aussie. Harga emas dunia Jumat lalu menembus batas atas range konsolidasi dan ditutup menguat sekitar 1,35 persen di 1513.70 dollar per troy ounce.
Sentimen negatif bagi euro kemungkinan akan berlanjut minggu ini. Fokus tetap tertuju pada apakah Yunani akan harus merestrukturisasi hutangnya atau akankah ada gelombang bailout Uni Eropa lagi berikutnya. Komentar dan pernyataan para pejabat akan semakin perlu untuk disimak untuk mendapatkan kejelasan mengenai kemungkinan-kemungkinan tersebut. (atz)











































