Debu Gunung Islandia Bikin Rontok Saham Maskapai Penerbangan

Debu Gunung Islandia Bikin Rontok Saham Maskapai Penerbangan

- detikFinance
Senin, 23 Mei 2011 15:51 WIB
Debu Gunung Islandia Bikin Rontok Saham Maskapai Penerbangan
Paris - Saham-saham maskapai penerbangan di Eropa langsung rontok merespons dampak letusan gunung berapi di Islandia, Grimsvoetn. Letusan salah satu gunung berapi paling aktif di Eropa itu dikhawatirkan bisa memicu penundaan penerbangan.

Pada awal perdagangan Senin (23/5/2011), saham Lufthansa tercatat merosot 4,56%, dengan indeks DAX turun 1,5%. Demikian pula saham KLM turun hingga lebih dari 4%, atau lebih besar dari penurunan indeks saham di pasar saham Paris.

Saham International Airline Group, pemilik British Airways dan Iberia merosot 3,55% pada awal perdagangan, sementara indeks saham di London turun 1,34%. Saham maskapai Skandinavia, SAS juga merosot 3,02%, dengan indeks saham di Stockholm turun 1,55%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, gunung berapi Grimsvoetn mulai meletus pada Sabtu (21/5/2011) lalu dan diperkirakan debunya akan sampai ke Eropa pada Selasa. Ini adalah letusan gunung berapi dahsyat setelah letusan gunung Eyjafjoell pada April 2011 lalu. Biaya kehilangan pendapatan dan kompensasi sempat menggerogoti industri penerbangan, terutama Eropa.

Denmark telah menutup jalur penerbangan di sekitar Greenland, sedangkan Norwegia mengatakan akan menunda sejumlah penerbangan pada Senin ke kawasan Artic.

Menteri Transportasi Prancis, Thierry Mariani mengingatkan penerbangan-penerbangan bisa ditunda jika debu dari letusan gunung Grimsvoetn menyebar ke seluruh Eropa.

"Satu hal yang saya yakini adalah jika Eropa terkena dampaknya maka penerbangan akan ditunda. Jika debu tidak berbahaya, maka pesawat tetap terbang. Jike debu berbahaya atau memberikan risiko, maka pesawat tidak akan terbang," ujar Mariani kepada radio Europe 1, seperti dikutip dari AFP.

Debu-debu dari letusan gunung itu dikhawatirkan bisa merusak mesin pesawat, sehingga penundaan dianggap sebagai pencegahan.

"Prioritas tetap selalu pada masalah keamanan, tanpa itu tentu saja melanggar prinsip pencegahan," tambah Mariani.
(qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads