Demikian disampaikan Direktur Utama KRAS, Fazwar Bujang usai RUPS Tahunan di Hotel Ritz Calton, SCBD, Jakarta, Senin (6/6/2011). "Belum ada kesepakatan (dengan Borneo). Hanya kita menginginkan hard cooking coal di kemudian hari. Ini untuk pasokan jangka panjang," jelasnya.
Direktur Keuangan KRAS, Sukandar, menambahkan, saat ini pihaknya masih menjajaki perusahaan yang dapat memasok batu bara berkalori tinggi untuk pabrik mereka. Tidak hanya Borneo. Perusahaan tambang asal Australia juga sudah ada yang dapat memproduksi hard cooking coal ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, bahan baku hard cooking coal baru akan dipergunakan perseroan saat pembangunan pabrik blast furnace selesai di awal 2014. "2014 awal baru consume cooking coal, selama ini pakai gas base (bahan bakar gas)," tuturnya.
Sepanjang tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal (capex) Rp 3,3 triliun untuk mendanai operasional KRAS. Ini termasuk pembangunan blast furnace, yang diperkirakan menghabiskan dana US$ 529 juta.
"Pembiayaan blast furnace akan dilakukan secara bertahap selama 3 tahun sampai pabrik selesai di bangun," ucapnya.
KRAS, perusahaan negara yang baru mencatatkan sahamnya tahun lalu ini melaporkan penggunaan dana IPO kepada pemegang saham. Dimana Rp 928,3 miliar telah dihabiskan perseroan untuk investasi barang modal terkait rencana modernisasi dan ekspansi kapasitas pabrik baja lembaran canai panas.
Selain itu, dana IPO Rp 627 miliar telah dipakai untuk meningkatkan modal kerja KRAS. Disisihkan pula Rp 648 miliar sebagai biaya pematangan lahan seluas 388 ha sebagai penyertaan modal KRAS pada proyek PT Krakatau Posco.
"Sebesar Rp 388,95 miliar untuk meningkatkan penyertaan modal pada anak perusahaan, yaitu PT KBS dan PT KDL untuk peningkatan kapasitas," imbuh Fazwar.
(wep/ang)











































