"Tadi yang di panel mereka lupa Indonesia, hanya China dan India (merajai penerbangan). Tapi market di Indonesia sendiri kita kuat," ujar Presiden dan CEO Garuda Indonesia, Emirsyah Satar usai acara IATA di Sand Expo and Convention Centre, Singapura, Selasa (6/6/2011).
Emir mengakui laba dunia penerbangan dunia menurun hingga $ 4 miliar seperti yang sebutkan Director General and CEO IATA, Giovanni Bisignani sebelumnya. Yang seharusnya bisa mendapatkan laba sebesar $ 8,6 miliar kini turun sebesar 50 persen. Namun meski begitu, untuk di Indonesia sendiri, Garuda tetap bisa profit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emir menekankan kekuatan Garuda dan sejumlah airline di Indonesia sendiri ada pada market domestik. Traffic domestik kurang lebih 60 juta per tahunnya. Karena itu, setiap maskapai penerbangan harus bisa memanfaatkannya.
"Tinggi sekali per tahun antara domestik dan internasional. Cukup kuat," ungkapnya.
Sebelumnya Director General and CEO International Air Transportation Association (IATA) Giovanni Bisignani mengatakan, gempa dan tsunami Jepang hingga konflik yang terjadi di Timur Tengah berdampak bagi dunia penerbangan. Sebanyak 230 maskapai penerbangan yang tergabung dalam The International Air Transport Association (IATA) mengalami penurunan keuntungan.
Kejadian tersebut telah memangkas ekspektasi industri keuntungan hingga US$ 4 miliar tahun ini. Perkiraan sebelumnya, lanjut Giovanni, diharapkan tahun ini, 230 maskapai tersebut bisa meraup untung hingga US$ 8,6 miliar. Penurunan ini terjadi hingga 54%.
Seperti diketahui, akibat tingginya biaya operasional, Garuda pada triwulan I-2011 mencetak rugi Rp 183,557 miliar, dari sebelumnya menghasilkan laba Rp 18,02 miliar.
(gus/qom)











































