Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Budi Mulya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR yang dilakukan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/6/2011).
"Dalam kondisi ekonomi yang terbuka selalu ada pengaruh global kepada perekonomian kita baik pengaruh datang dari perkembangan pasar keuangan, perkembangan perekonomian global dan kita pahami pengaruh ini bisa memberikan dampak temporer kepada kurs rupiah," kata Budi Mulya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Budi, tren penguatan nilai tukar ini juga bisa terjadi di negara-negara berkembang karena banjir likuiditas.
"Hal ini seiring dengan ketidakpastian yang berada di dalamnya (tingkat global) di mana perekonomian negara maju bertumbuh positif tapi rendah sedangkan perekonomian negara berkembang bertumbuh dan sangat kuat tumbuhnya," paparnya.
Ditambah lagi, lanjut Budi, ketidakpastian solusi utang di Eropa khususnya di mediteran karena dampak dari gangguan suplai atau ekspor dari Jepang ke negara-negara maju utamanya ke AS. "Sehingga ini mempengaruhi recovery AS. Dan berbagai hal itu pada gilirannya akan memberikan suatu volatilitas perkembangan currency dari negara maju kepada negara emerging," jelas Budi.
Lebih jelas Budi menegaskan scara tren nilai tukar di emerging market alias negara berkembang utamanya rupiah akan terus menguat.
"Mengenai asumsi, di mana pemerintah memberikan asumsi Rp 9.000-9300/US$ tentu dengan pertimbangan, tapi bagi kami di BI yang tugasnya memang menjaga rupiah kami berasumsi di 2012 kurs itu ada pada Rp 8.600-9100/US$," kata Budi.
Budi juga memaparkan mengapa terdapat spread (rentang) atau koridor Rp 500/US$ di kisaran tersebut di mana seolah-olah menimbulkan kesan BI sangat prudent.
"Barangkali menurut pemahaman kami justru pemberian kisaran Rp 500 rupiah itu memang sengaja, karena kita memang ingin suatu fluktuasi nilai tukar secara proper bagi pelaku industri pasar maupun bagi kami otoritas karena memang global hari-kehari selalu dihadapkan dengan ketidakpastian dan dinamisme volatilitas dipasar keuangan yang begitu tinggi. Jadi memang Rp 500 itu hitungan kami yang memadai untuk menampung adanya ketidakpastian dalam pasar keuangan global," paparnya.
"Kami juga melihat kisaran Rp 8.600 sampai Rp 9.100/US$ untuk 2012 merupakan kisaran yang memadai pertimbangannya bahwa perkembangan neraca pembayaran Indonesia sebagai pintu bagaimana kita memonitor pergerakan dari mata uang perkembangan neraca transaksi berjalan di 2012, berbeda dengan 2011 transaksi berjalan BI sudah akan memasuki teritory atau era defisit," imbuh Deputi Bidang Moneter ini.
(dru/dnl)











































