ECB Prediksikan Tekanan Inflasi Menurun, Euro Lanjut Terkoreksi

ECB Prediksikan Tekanan Inflasi Menurun, Euro Lanjut Terkoreksi

- detikFinance
Jumat, 10 Jun 2011 10:20 WIB
Jakarta -


Sesuai ekspektasi pasar, Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis (9/6) memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya pada level 1,25 persen. Dan sesuai dengan ekspektasi pasar pula, Gubernur ECB Jean-Claude Trichet memberikan sinyal bahwa ECB akan menaikkan suku bunganya pada jadwal rapat kebijakan moneter berikutnya, bulan Juli mendatang.

Namun, justru karena sesuai dengan ekspektasi pasar itulah, ruang gerak euro untuk menguat pun terbatas. Tidak ada unsur kejutan pada keputusan dan pernyataan ECB kali ini, berbeda dengan apa yang terjadi bulan Maret lalu saat Trichet secara mengejutkan mengindikasikan akan naiknya suku bunga. Euro bahkan akhirnya harus ditutup melemah terhadap dollar pada akhir sesi perdagangan Kamis.




Euro memang sempat menguat sesaat menguat setelah Trichet mengucapkan mantra strong vigilance (ekstra waspada). Frasa tersebut dikenal sebagai cara Trichet untuk mengungkapkan kekhawatiran ECB mengenai inflasi dan indikasi bahwa suku bunga akan naik dalam waktu dekat. Hanya sekali, yaitu pada September 2007, penggunaan frasa strong vigilance tidak diikuti dengan kenaikan suku bunga pada bulan-bulan berikutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor utama di balik melemahnya euro kemudian adalah proyeksi inflasi ECB. Inflasi diprediksikan ECB akan berada di kisaran 1,7 persen pada 2012 nanti, lebih rendah dari yang diprediksikan para analis dan ekonom sebelumnya. Fakta tersebut memicu timbulnya spekulasi bahwa laju kenaikan suku bunga ECB mungkin tidak secepat yang semula diperkirakan. Dengan proyeksi turunnya tekanan inflasi tersebut, bisa jadi ECB hanya akan sekali menaikkan suku bunganya.

Tanpa adanya ekspektasi naiknya suku bunga ECB setelah bulan Juli mendatang, perhatian para pelaku pasar pun kembali terpusat pada masalah krisis hutang Zona Euro. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mengatakan sulit membantah bahwa Yunani tidak bermasalah dan menambahkan akan merevisi rating Portugis dan Irlandia jika Yunani harus merestrukturisasi hutangnya.

Alih-alih teratasi, krisis hutang Zona Euro ditakutkan akan meluas, menulari negara-negara anggota lainnya. Naiknya suku bunga, pada gilirannya nanti, dinilai hanya akan semakin menambah beban negara-negara anggota yang bermasalah.

Terhadap dollar, euro terjun bebas dari level tertinggi 1.4650 hingga terendah 1.4474 pada sesi perdagangan Kamis. Pada akhir sesi, euro pun ditutup melemah hampir 0,5 persen di kisaran 1.4510 terhadap dollar.

Faktor ekspektasi suku bunga juga menjadi alasan melemahnya poundsterling kemarin.

Sebagaimana ECB, Bank Sentral Inggris (BoE) juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya di level 0,50 persen, terendah dalam sejarah berdirinya BoE. Lemahnya data perekonomian Inggris akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa proses pemulihan masih terseok-seok, sehingga BoE mungkin akan mempertahankan suku bunganya di level terendah untuk jangka waktu yang lebih lama.

Poundsterling diperdagangkan di kisaran 1.6367 terhadap dollar pada akhir sesi, melemah sekitar hampir 0,2 persen dari level pembukaan.

Dollar juga terpantau menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya seperti yen Jepang dan franc Swiss. Penguatan dollar turut terbantu oleh data yang menunjukkan defisit perdagangan AS menyusut melebihi ekspektasi pada bulan April.

Yen ditutup melemah 0,6 persen di kisaran 80.37 per dollar. Sedangkan terhadap franc Swiss, dollar juga ditutup menguat sekitar 0,6 persen di kisaran 0.8410.

Pada perdagangan lainnya, harga emas dunia kembali beranjak naik hingga mencapai tertinggi $1549.20 per troy ounce pada hari Kamis. Logam mulia ini dinilai lebih aman sebagai sarana lindung nilai saat ini. Pada akhir sesi perdagangan Kamis, harga spot emas ditutup menguat sekitar 0,4 persen di kisaran 1543.50 terhadap dollar. (atz)




(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads