Demikian disampaikan Direktur Keuangan Antam, Djaja Tambunan di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (14/6/2011).
"Kita lihat, kalau harga feronikel masih berada di level tinggi seperti saat ini, opsi pendanaan eksternal, obligasi tidak dilakukan," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Direktur Utama Antam, Alwin Syah Loebis, tahun ini perseroan fokus dalam penyelesaian tiga proyek. Diataranya, Chemical Grade Alumina Tayan senilai US$ 450 juta, pembangunan Feronikel Halmahera dengan total investasi US$ 1,6 miliar, serta optimasi dan efisiensi pabrik II Pomala US$ 450-500 juta.
Sementara dua proyek sisanya akan mulai tergarap mulai 2012, diantaranya Smleter Grade Alumina (SGA) Mempawah sebesar US$ 1 miliar. Proyek ini akan memproduksi 1,2 juta ton per tahun. Satu lagi adalah proyek nickel pig irone (NPI) Mandiodo. Perseroan siap menginvestasikan dana US$ 400 juta.
Tahun ini saja, Antam menganggarkan capital expenditure (capex) Rp 3,9 triliun. Dimana hingga Mei 2011 dana yang telah dibelanjakan mencapai Rp 1,45 triliun.
"Sampai Mei, setengahnya sudah terpakai untuk proyek CGA, dan pembebasan lahan," paparnya.
Sementara itu, pembangunan proyek PT Meratus Jaya Iron Steel sampai saat ini terus berjalan dan masih dalam tahap uji coba. Meratus Jaya merupakan anak usaha bersama Antam dengan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Antam memiliki 34% dari total kepemilikan saham, sisanya milik KRAS.
Meratus akan memproduksi material sponge irone, dan digunakan sebagai bahan baku KRAS. Total investasi mencapai Rp 1,5 triliun, dimana Rp 600 miliar telah didanai dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
"Progressnya masih uji coba, seperti yang disampaikan KS kepada kami. Meratus akan memiliki kapasitas 300 ribu ton per tahun sponge irone," imbuh Alwin.
(wep/ang)











































