Data Perekonomian China dan AS Dongkrak Risk-Appetite

Data Perekonomian China dan AS Dongkrak Risk-Appetite

- detikFinance
Rabu, 15 Jun 2011 10:25 WIB
Jakarta -


Euro dan dollar Australia menguat pada sesi perdagangan Selasa (14/6) seiring dengan bangkitnya risk-appetite para pelaku pasar. Data perekonomian China dan AS, dua roda utama perekonomian dunia, membantu mengurangi kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Data output industri dan penjualan ritel China yang dirilis kemarin menunjukkan tren pertumbuhan yang solid. Sementara meski inflasi bulan Mei tertinggi dalam hampir tiga tahun, pemerintah China diyakini akan dapat mengendalikannya tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Bank Sentral China kembali menaikkan giro wajib minimum sebagai upaya mengendalikan laju inflasi.

Berikutnya, data AS turut menambah optimisme para pemodal. Meski turun, angka penurunan data penjualan ritel AS lebih kecil dibandingkan ekspektasi para ekonom. Sedangkan data persediaan dunia usaha juga meningkat, mengindikasikan membaiknya tingkat permintaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT




Bangkitnya risk-appetite, untuk sementara, menghapus kekhawatiran mengenai belitan krisis hutang Zona Euro. Para pelaku pasar pun menjual aset-aset safe-haven dan ber-yield (imbal hasil) rendah untuk mata uang-mata uang yang erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dunia dan memberikan yield lebih tinggi.

Terhadap dollar, euro kemarin melonjak hingga 1.4495 sebelum kemudian ditutup di 1.4440 pada akhir sesi perdagangan, menguat sekitar 0,2 persen dari level pembukaan.

Sedangkan dollar Australia ditutup menguat hampir 0,7 persen di 1.0680 terhadap dollar AS. Sebagai rekan dagang terbesar China, pertumbuhan ekonomi China akan berdampak positif bagi perekonomian Australia.

Poundsterling, sementara itu, sempat menguat hingga 1.6441 terhadap dollar. Data inflasi Inggris yang dirilis kemarin menunjukkan inflasi bulan Mei meningkat 4,5 persen dibandingkan tahun lalu. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari target inflasi Bank Sentral Inggris (BoE).

Namun, pada akhir sesi, poundsterling mesti melepas kembali gain-nya tersebut untuk kemudian ditutup di 1.6375 terhadap dollar. Kembali terkoreksinya poundsterling menggambarkan keyakinan bahwa BoE belum akan merespon naiknya inflasi dengan menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.

Di lain pihak, aset-aset safe-haven seperti franc Swiss dan yen Jepang terpukul oleh bangkitnya kembali risk-appetite pasar. Sinyalemen membaiknya perekonomian dunia membuat para pelaku pasar lebih percaya diri menginvestasikan modalnya pada aset dan mata uang yang risikonya lebih tinggi.

Yen diperdagangkan melemah hampir 0,4 persen di kisaran 80.52 per dollar pada akhir sesi perdagangan Selasa. Sedangkan franc Swiss, melemah hampir satu persen dengan ditutup di 0.8450 per dollar.

Pada perdagangan lainnya, harga emas dunia naik hingga $1525.80 per troy ounce, terdorong naiknya tekanan inflasi China. Emas termasuk sarana lindung nilai favorit terhadap inflasi. Naiknya harga emas juga masih disebabkan oleh faktor krisis hutang Eropa. Pada akhir sesi perdagangan Selasa, harga spot emas dunia ditutup di $1524.20 per troy ounce, naik hampir 0,6 persen dari level pembukaan. (atz)




(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads