Menurut manajemen Dianjaya, dalam materi paparan publik, seperti dikutip detikFinance, Rabu (15/6/2011), laba bersih sampai di April mencapai Rp 85,94 miliar.
Dengan asumsi pertumbuhan tiap bulannya, posisi laba hingga akhir tahun diproyeksi mencapai Rp 200 miliar. Pencapaian laba tidak lepas dari posisi penjualan yang terus mengalami tren peningkatan. Penjualan hingga April tercatat Rp 769,8 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di 2010, penjualan bersih Dianjaya naik tipis dari Rp 1,641 triliun menjadi Rp 1,71 triliun. Namun akibat penurunan beban penjualan dari Rp 1,829 triliun menjadi Rp 1,413 triliun, Dianjaya berhasil mengoptimalkan laba menjadi Rp 171,42 miliar, setelah di 2009 mengalami rugi bersih Rp 150,055 miliar.
Perseroan terus meningkatkan kapasitas terpasang hingga akhir 2012. Saat ini produksi Dianjaya 400 ribu ton dan berpeluang naik menjadi 540 ribu ton. Untuk itu Dianjaya telah menyediakan belanja modal US$ 15 juta.
"Pembiayaan rencana ini diperoleh dari sumber pendapatan internal. Dengan ekspansi tersebut, perseroan akan mampu bersaing dalam bidang kuantitas dan kualitas produksi," tegasnya.
Dianjaya terus mencermati harga minyak serta nilai mata uang euro yang fluktuatif sebagai akibat krisis ekonomi di beberapa negara Eropa Selatan. Tentu kedua hal tersebut berdampak pada baja, sebagai salah satu komoditi internasional.
(wep/dnl)











































