Menurut Direktur Utama BEI, Ito Warsito, Indonesia mempunyai 139 perusahaan plat merah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 122 BUMN menghasilkan keuntungan, dan hanya 17 BUMN yang merugi.
"Dari yang membukukan keuntungan, yang tercatat di pasar modal baru 18. Ini sasaran kita, kelompok BUMN. Karena konglomerat terbesar adalah negara," jelas Ito di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (16/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah mendukung pasar modal, tapi selama 20 tahun baru (BUMN) 18 yang listed," paparnya.
Kelompok kedua yang disasar BEI dalam memperbesar emiten adalah perusahaan pengelola sumber daya alam (SDA). Ito mengakui saat ini sudah banyak perusahaan tambang batubara dan minyak dan gas sudah berpartisipasi sebagai emiten, namun ini bisa lebih dimaksimalkan.
Kelompok terakhir adalah nasabah besar perbankan. Mereka adalah perusahaan yang selama ini terusa berkembang. "Kenapa nasabah kredit besar perbankan. Karena kalau (nasabah) terima kredit, ekuitas mereka besar dengan size signifikan," paparnya.
Saat nasabah korporasi terus tumbuh namun pendanaan perbankan sudah mencapai titik maksimal (debt equity ratio), maka diperlukan sumber modal alternatif. Salah satunya adalah penawaran umum saham perdana (IPO).
"Kami kerja sama dengan bank untuk melakukan kampanye go public kepada nasabah korporasi perbankan," ucap Ito.
Ia menambahkan, saat ini kapitalisasi pasar di BEI mencapai Rp 3.400 triliun, atau telah melampui target di 2012 yang sebesar Rp 3.000 triliun. Padahal tiga tahun lalu, kapitalisasi pasar BEI masih Rp 1.700 triliun.
"Untuk itu perlu target baru, yang sebenarnya bukan target resmi. Di 2010 dengan US$ 360 miliar, maka duharapkan akan meningkat dua kali lipat US$ 700 miliar di 2015," imbuhnya.
(wep/dnl)











































