
Eropa dengan krisis utangnya dan AS dengan ancaman melambatnya perekonomiannya menjadi alasan para pelaku pasar memburu mata uang safe-haven. Yen Jepang dan franc Swiss, dua mata uang safe-haven favorit pun menguat di sesi perdagangan Kamis (16/6). Franc Swiss bahkan sempat menguat hingga rekor tertinggi baru dalam sejarah versus euro.
Kekhawatiran mengenai krisis Yunani masih menjadi beban bagi euro. Perbedaan pendapat antara Jerman dan Bank Sentral Eropa (ECB) mengenai perlunya restrukturisasi utang Yunani sejauh ini belum ada tanda-tanda mencapai titik temu.
Di satu sisi, Jerman mendesak agar para pemegang obligasi Yunani turut menanggung beban biaya penyelamatan Yunani. Sementara di sisi lain, ECB kukuh dengan pendiriannya untuk dengan segala daya mencegah restrukturisasi hutang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, frustrasi pelaku pasar telah terlihat dari melemahnya euro hingga menembus di bawah level psikologis 1.2000 terhadap franc Swiss. Terhadap dollar sendiri, euro juga sempat melemah hingga 1.4070, terendah sejak 26 Mei.
Euro kemudian berhasil rebound terhadap dollar dan berbalik ditutup menguat sekitar 0,35 persen di kisaran 1.4213 pada akhir sesi. Lemahnya data sektor manufaktur AS yang dirilis semalam membantu rebound euro tersebut.
Yen Jepang diperdagangkan menguat 0,4 persen di kisaran 80.62 per dollar.
Demikian pula franc Swiss, menguat 0,7 persen dengan ditutup di 0.8475 versus dollar. Para pelaku pasar mengabaikan Bank Sentral Swiss (SNB) yang kemarin mengungkapkan keberatan mereka tentang apresiasi franc belakangan ini.
SNB kemarin memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level 0,25 persen. Dalam pengumuman keputusan tersebut SNB juga mengatakan bahwa penguatan franc Swiss masih menjadi ancaman utama bagi perekonomian di samping sektor properti yang overheating. Namun, karena tidak ada indikasi SNB akan bertindak untuk menahan laju penguatan franc, para pelaku pasar pun mengabaikan pernyataan SNB tersebut.
Sementara itu, poundsterling anjlok hingga 1.6077 terhadap dollar, terendah sejak 25 Mei. Sentimen negatif bagi poundsterling datang dari pernyataan Mervyn King. Gubernur Bank Sentral Inggris (BoE) tersebut kemarin mengungkapkan optimismenya bahwa laju inflasi akan turun. Pernyataan King mengindikasikan kian kecilnya peluang BoE menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Meski laju inflasi Inggris sudah jauh melebihi target BoE, indikasi melambatnya perekonomian Inggris menghalangi BoE menaikkan suku bunga untuk mengimbanginya. Naiknya suku bunga justru akan semakin menghambat pertumbuhan ekonomi.
Namun, sebagaimana euro, poundsterling berhasil rebound menjelang akhir sesi untuk kemudian ditutup di 1.6167 terhadap dollar, melemah kurang dari 0,1 persen dari level pembukaan.
Data AS yang dirilis semalam menunjukkan aktivitas manufaktur di kawasan Philadelphia, di luar perkiraan, mengalami penurunan untuk kali pertama dalam 9 bulan terakhir. Sementara meski menunjukkan penurunan, angka data Initial Jobless Claims yang masih berada di atas level 400.000 mengindikasikan belum pulihnya pasar kerja AS. (atz)










































