Menurutnya Presiden Direktur IMAS, Jusak Kertowidjojo, perseroan segera mendapat dana rights issue dengan total Rp 2,76 triliun. Harga saham baru yang dikeluarkan sekitar Rp 8.000 dengan jumlah yang dilepas 345,659 juta lembar.
Dimana 40% dari total rights issue, atau Rp 1,106 triliun diperuntukkan sebagai biaya perluasan bisnis dan tujuan modal kerja secara umum. Ini termasuk pengembangan pembiayaan otomotif, perluasan jaringan cabang ritel Nissan, heavy duty trucks dan equipment business dan spareparts.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sisa perolehan saham melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), atau 60% sebagai pelunasan sebagian utang perseroan. Utang ini dianggap memiliki beban bunga cukup tinggi sehingga perlu untuk dilunasi.
"Total utang Indomobil Sukses Internasional, sekitar Rp 2 triliun. Ini non financial company. Saat dilunasi maka Debt Equity Ration (DER) perseroan menjadi kecil sekali, 0,4 kali," tuturnya.
Meski belum memastikan total dana yang didapat dari rights issue, manajemen menyampaikan, respon investor luar negeri sangat baik. Hampir seluruh negara menyatakan minatnya atas saham baru IMAS.
"Semua bagus, ASEAN, juga Eropa," imbuhnya.
Pasar pembiayaan kendaraan masih bagus. Hingga INFI membutuhkan modal baru untuk meningkatkan pembiayaan mereka.
"Saat ini industri pasar sedang meningkat. Namun persentase pembiayaan masih rendah. Kita ingin tingkatkan," ucapnya.
Jusak menambahkan, perseroan menyiapkan dana Rp 400 miliar untuk ekspansi jaringan baru dan optimalisasi jaringan yang sudah ada. Perseroan fokus pada penambahan jaringan mobil Nissan, yang tahun lalu mengkotribusikan 57% atau Rp 6,7 triliun dari total pendapatan IMAS.
"Belanja tahun ini lebih besar, Rp 400 miliar. Untuk jaringan, Nissan utamanya," tuturnya.
(wep/ang)











































