Dari total belanja modal Rp 1,4 triliun tahun 2011, setengahnya yaitu Rp 700 miliar bersumber dari pinjaman perbankan. Belanja modal juga mengalami peningkatan dari target RKAP awal tahun, Rp 1,2 triliun.
Demikian disampaikan Direktur Keuangan TINS, Krishna Syarif usai RUPS Tahunan di Hotel Ritz Calton, SCBD, Jakarta, Kamis (23/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belanja modal akan dimanfaatkan perseroan untuk pengembangan pabrik tin chemical. Pabrik tahap II menjadi awal pengembangan usaha tin chemical, dengan total biaya yang dihabiskan sekitar Rp 180 miliar.
Juga ada penambahan alat di galangan kapal, pembangunan Fuming Furnace Plant, serta pembukaan tambang besar dengan menghabiskan dana Rp 40 miliar.
"Chemical tahap I memang berkapsitas 10 ribu ton per tahun. Di awal-awal kami akan penuhi target produksi 6.000 ton per tahun. Tapi tahap II dulu yang kita proses, dengan bahan baku yang masih kita impor," terang Direktur Niaga TINS, Gatut Hariprastyo.
Menurut Gatut, saat tahap I tuntas maka untuk memperoleh bahan baku produksi, TINS tidak perlu membeli dari luar negeri. "Juli akan selesai visibility study. Setelah setuju oleh komisaris makan kami akan bangun. Nantinya akan selesai di 2012," tuturnya.
Direktur Utama Timah, Wachid Usman menegaskan, skema pembangunan pabrik ini menjadi strategi perusahaan. Saat seluruhnya siap secara komersil, maka produk tin chemical TINS sudah dikenal pasar.
"Akan ada perbesaran kapasitas, justru di Bangka Barat. Ini perlu infrastruktur untuk bangun jalan, jembatan, listrik, air bersih dan pengolahan limbah," ucapnya.
Besar investasi terkini, baru dapat diketahui pada enam bulan mendatang. "Kita investasi cukup besar, tapi kita tunggu saja," tutur Wachid.
Belanja modal juga dialokasikan sebagai penggantian alat produksi dengan nilai Rp 359 miliar. Ini masih ditambah pembuatan kapal keruk BWD guna melakukan penambangan timah offshore.
Satu kapal BWD akan menelan biaya Rp 480 miliar. Kapal perdana akan selesai dibangun pada akhir 2012. Tiga kapal lain dengan jenis yang sama, juga akan dibangun secara bertahap.
"Secara rata-rata, produksi di darat dengan laut 80:20. Saat ini laut sudah 55%, dan akan ditingkatkan menjadi 60-70%, ini kalau (penambangan) di darat tidak memungkinkan," imbuh Corporate Secretary TINS, Abrun Abubakar.
(wep/ang)











































