Demikian disampaikan Direktur Keuangan PT Skybee Tbk Felix Khristani di Hotel Le Meridian, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (24/6/2011).
Manajemen beralasan, utang US$ 10 juta ini digunakan untuk pembelian inventory serta memperkuat modal kerja. Demi mendapat utang baru, perseroan rela menjaminkan asetnya sebagai bagian dari perjanjian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari ini, manajemen pun akan meminta restu dari pemegang saham untuk menjaminkan aset SKYB, dalam RUPS Luar Biasa.
Sepanjang 2010, perseroan membukukan pendapatan Rp 553,23 miliar. Dan di tahun ini manajemen membidik pertumbuhan pendapatan 25%, yang didorong oleh penjualan handset.
"Penjualan kita minimal tumbuh 25% pada 2011. Ini didukung dari penjualan Blackberry dan Sony Ericson. Kontribusi terbesar dari handset," tutur Direktur Utama Skybee Hendra Kendro.
Skybee merupkan salah satu distributor handset ponsel, dengan segmen terbesar pada harga di bawah Rp 1 juta. Meskipun ada produk handset berbandrol mahal, namun jumlahnya minim.
Perseroan memutuskan untuk tidak membagikan dividen pada tahun buku 2010. Padahal laba bersih SKYB tahun lalu mencapai Rp 19 miliar, naik dari sebelumnya Rp 3,36 miliar.
Hendra mengungkapkan, laba akan digunakan untuk investasi lanjutan perseroan.
(wep/dnl)











































