Siapkan US$ 250 Juta, Indosat 'Pangkas' Utang Berbunga Tinggi

Siapkan US$ 250 Juta, Indosat 'Pangkas' Utang Berbunga Tinggi

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Jumat, 24 Jun 2011 18:47 WIB
Siapkan US$ 250 Juta, Indosat Pangkas Utang Berbunga Tinggi
Jakarta -

PT Indosat Tbk (ISAT) akan mengurangi total utang yang hingga triwulan I-2011 mencapai Rp 23,9 triliun. Caranya dengan refinancing (pelunasan) pada instrumen kewajiban dengan beban bunga tinggi. Perseroan juga siap menerbitkan instrumen surat utang baru untuk membayar kewajiban pada obligasi existing.

Demikian disampaikan Direktur Utama ISAT, Harry Sasongko, dalam paparan publik usai RUPS Tahunan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (24/6/2011).

Target pengurangan utang yang ditetapkan manajemen meningkat, dari US$ 200 juta menjadi US$ 250 juta. Perseroan masih memilih utang mana yang akan dilunasi lebih dahulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari US$ 220-250 juta, mana yang bunganya lebih tinggi, itu yang kita lunasi lebih dulu," katanya.

Harry menambahkan, pada 2010 perseroan telah mengurangi rasio utang 5% dibandingkan peride sebelumnya. Pelunasan sebagian utang terjadi karena ISAT telah membukukan positif kas Rp 900 miliar, dari sebelumnya negatif Rp 6,6 triliun.

Refinancing dengan skema pembayaran utang secara tunai, bersumber atas pendapatan ISAT dari divisi selular. "Ya bayar pakai free cash flow, operasional kita kan terus berjalan," tuturnya.

Selain membayar tunai, perseroan juga siap menerbitkan surat utang baru sebagai pengganti obligasi dengan beban bunga yang tinggi. "Kondisi ekonomi global kan sedang likuid, hingga refinancing utang dengan bunga lebih rendah bisa saja dilakukan. Kita ada rencana itu. Namun bonds kan ada yang di-call (bayar kembali) atau ngga," ucapnya.

Sebagai catatan, dari Rp 24,4 triliun total utang perseroan tahun lalu, terdiri dari utang jangka pendek Rp 4,29 triliun. Kemudian sisanya Rp 20,1 triliun adalah utang jangka panjang. Kewajiban tersebut terbagi menjadi dua jenis, yaitu berdenominasi rupiah 44% dan dolar Amerika Serikat (AS) 56%.

(wep/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads