Mendekati agenda voting penentuan nasib proposal kebijakan penghematan, Yunani kembali menjadi alasan berlanjut melemahnya euro. Pada sesi perdagangan Jumat (24/6), euro terpuruk hingga 1.4138 terhadap dollar sebagai dampak dari pernyataan yang dilontarkan Thomas Robopoulos.Deputi PASOK, partai penguasa, tersebut mengatakan akan memberikan suaranya untuk menolak proposal kebijakan penghematan yang mencakup di dalamnya kenaikan pajak, pemangkasan anggaran, dan penjualan aset-aset milik negara. Pernyataan tersebut menggoncang pasar yang sedang sangat sensitif terhadap perkembangan situasi Yunani.
Yunani mesti menerapkan kebijakan penghematan dan pemotongan anggaran sebagai syarat agar dapat menerima dana bantuan dari Uni Eropa dan IMF. Tanpa dana bantuan tersebut, Yunani terancam default (gagal bayar) atas hutang-hutangnya yang akan jatuh tempo bulan Agustus mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya suara penolakan menimbulkan kekhawatiran bahwa proposal kebijakan yang diajukan PM George Papandreou tersebut akan terhenti di meja parlemen. Sebagaimana diketahui, Papandreou minggu lalu lolos dari mosi tidak percaya dengan perbedaan suara tipis, 155 banding 143. Tipisnya perbandingan suara bisa menjadi indikasi bakal alotnya negosiasi meloloskan proposal kebijakan.
Parlemen Yunani dijadwalkan akan mengadakan voting atas proposal kebijakan penghematan tersebut pada tanggal 29 dan 30 Juni.
Di samping Yunani, sentimen negatif bagi euro juga datang dari Italia. Tanda-tanda meluasnya krisis hutang Zona Euro kian kuat setelah lembaga pemeringkat Moody's mengatakan mungkin akan menurunkan peringkat 13 bank Italia karena dinilai rentan jika rating kredit pemerintah Italia dipangkas. Sebelumnya, Moody's memang lebih dulu mengancam akan memangkas rating kredit Italia terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi dan krisis hutang Eropa.
Kabar dari Moody's tersebut memicu anjloknya harga saham-saham perbankan di lantai bursa Italia. Perdagangan saham-saham perbankan bahkan akhirnya harus dihentikan sementara karena tingginya volatilitas.
Terhadap dollar, euro diperdagangkan di kisaran 1.4177 pada akhir sesi perdagangan Jumat, melemah sekitar 0,6 persen dari level pembukaan. Sejumlah analis memprediksikan euro terancam berlanjut melemah hingga $1.30 jika parlemen Yunani menolak proposal kebijakan tersebut.
Poundsterling, sementara itu, mengambang tak jauh dari level terendah dalam tiga bulan terhadap dollar. Ditutup di 1.5961 terhadap dollar, poundsterling terhitung melemah sekitar 0,34 persen dari level pembukaan. Poundsterling belum bisa menghapus sentimen negatif dari pernyataan pejabat dan minutes Bank Sentral Inggris (BoE) yang mengindikasikan kebijakan moneter dan suku bunga akan dipertahankan untuk jangka waktu yang lebih lama.
Sedangkan franc Swiss, kembali diuntungkan statusnya sebagai mata uang safe-haven. Meski tipis, franc ditutup menguat di 0.8374 per dollar.
Pada perdagangan lainnya, emas yang cenderung berkorelasi negatif dengan performa dollar, untuk kali pertama sejak 20 Mei, jatuh di bawah level support penting $1500 per troy ounce. Turun tajamnya harga minyak turut berperan dalam anjloknya harga emas. Pada akhir sesi perdagangan Jumat, emas ditutup di kisaran 1501.10 terhadap dollar, melemah 1,3 persen dari level pembukaan. (atz)











































