Melengkapi hasil voting sehari sebelumnya, parlemen Yunani pada hari Kamis (30/6) menyetujui undang-undang yang merinci implementasi kebijakan penghematan 5 tahun senilai 28,4 miliar euro. Dari 300 suara, 155 memberikan dukungannya terhadap kebijakan tersebut, sementara 136 suara menentangnya.Yunani, dengan demikian, telah memenuhi syarat untuk mendapatkan tambahan dana bantuan dari para kreditur internasionalnya. Para pelaku pasar kini tinggal menunggu hasil pertemuan para menteri keuangan negara-negara anggota Zona Euro tanggal 3 Juli nanti, yang diharapkan akan menyetujui paket bantuan berikutnya bagi Yunani.
Juga menambah perkembangan positif bagi Yunani adalah pernyataan Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble kemarin. Menurut Schaeuble, bank-bank Jerman telah setuju untuk me-rollover sekitar 2 miliar euro obligasi Yunani yang jatuh tempo hingga 2014, berdasarkan proposal rollover sukarela yang diusulkan Perancis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Kamis kemarin juga menandai berakhirnya program Quantitative Easing (QE) jilid 2 AS. QE2 adalah program pembelian sekuritas pemerintah AS senilai $600 miliar yang secara sederhananya bisa disamakan dengan kebijakan mencetak uang.
Semenjak diberlakukan, QE2 merupakan salah satu faktor utama yang memicu melemahnya dollar. Berakhirnya program pelonggaran tersebut, dengan demikian, seharusnya berdampak positif bagi dollar. Namun, dampak positifnya baru akan terasa saat level yield Treasury AS kembali normal dalam jangka menengah.
Dollar sendiri, sementara itu, menunjukkan performa yang rancu terhadap mata uang-mata uang lainnya. Menguat terhadap franc Swiss dan poundsterling, dollar justru melemah versus yen dan dollar Australia.
Terhadap franc, dollar ditutup menguat 0,8 persen di kisaran 0.8411. Sedangkan versus poundsterling, dollar ditutup menguat sekitar 0,12 persen di 1.6041.
Terhadap yen, dollar ditutup melemah 0,3 persen di 80.55. Demikian pula versus dollar Australia, dollar ditutup melemah 0,3 persen di 1.0706.
Dengan berkurangnya kekhawatiran mengenai Yunani, para pelaku pasar pun bisa kembali fokus pada ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Eropa, ECB. Pada beberapa kesempatan sebelumnya, Presiden ECB Jean-Claude Trichet telah mengindikasikan kemungkinan besar ECB akan menaikkan suku bunganya pada rapat kebijakan moneter tanggal 7 Juli mendatang.
Naiknya suku bunga dapat menambah daya tarik euro di mata para investor yang mengincar yield (imbal hasil) lebih tinggi. Sebab, di lain pihak, bank sentral AS (Federal Reserve) justru mengindikasikan akan mempertahankan kebijakan moneter ekstra longgar mereka untuk jangka waktu yang lebih lama. (atz)











































