S&P Ancam Pangkas Rating Yunani, Euro Terkoreksi

S&P Ancam Pangkas Rating Yunani, Euro Terkoreksi

- detikFinance
Selasa, 05 Jul 2011 10:18 WIB
Jakarta -


Euro terkoreksi pada perdagangan Senin (4/7) dipicu oleh pernyataan Standard & Poor's mengenai utang Yunani. Standard & Poor's kemarin menyatakan, jika Yunani menerima proposal Perancis untuk secara sukarela mengubah cara mengumpulkan dana dengan melibatkan swasta, rating kredit Yunani akan diturunkan menjadi "selective default" di bawah kriteria lembaga pemeringkat tersebut.

Standard & Poor's menilai bahwa rencana rollover obligasi Yunani akan sama saja dengan default (gagal bayar). Perbankan Perancis, pemegang surat utang Yunani terbesar, mengusulkan obligasi yang telah jatuh tempo diinvestasikan kembali pada obligasi yang baru dengan jangka waktu yang lebih lama. Usulan ini didukung oleh Jerman, pemegang surat utang Yunani terbesar ke dua, dan Bank Sentral Eropa (ECB).

Pernyataan Standard & Poor's tersebut menggoyang pasar yang volume perdagangannya terbilang tipis karena libur AS memperingati Hari Kemerdekaan dan membuyarkan momentum positif yang terbentuk sejak para menteri keuangan Zona Euro mensepakati paket bailout senilai 12 miliar euro pekan lalu. Bailout 12 miliar euro tersebut merupakan lanjutan dari skema dana bantuan pertama senilai 110 miliar yang hingga pada Maret lalu baru dicairkan 53 miliar euro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada akhir sesi perdagangan Senin, euro terpantau bergerak di kisaran 1.4526 terhadap dollar, melemah hampir 0,3 persen dari level pembukaan. Melemahnya euro, meski demikian, masih terbatasi oleh ekspektasi naiknya suku bunga ECB pada agenda rapat kebijakan moneter minggu ini.

Presiden ECB Jean-Claude Trichet telah sebelumnya mengatakan bahwa ECB sangat mewaspadai ancaman inflasi dengan menyebutkan frasa strong vigilance. Frasa tersebut lazim dikenal sebagai indikasi kesanggupan ECB untuk menaikkan suku bunganya meski Zona Euro masih dalam belitan krisis hutang.

ECB dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunganya pada hari Kamis (7/7) lusa.

Para pelaku pasar sendiri terbilang masih lebih condong pada aset-aset yang beresiko lebih tinggi. Hal ini bisa dilihat dari berlanjut melemahnya franc Swiss. Meski tipis, dollar kembali mampu membukukan gain terhadap franc dengan ditutup di 0.8477 pada akhir sesi.

Mata uang lainnya terpantau bergerak dalam rentang ketat versus dollar. Yen ditutup melemah tipis di kisaran 80.76 per dollar. Sedangkan poundsterling diperdagangkan di kisaran 1.6089 terhadap dollar, menguat kurang dari 0,1 persen dari level pembukaan.

Dollar Australia, sementara itu, ditutup melemah sekitar 0,4 persen di 1.0735 terhadap dollar menjelang rapat kebijakan moneter Bank Sentral Australia (RBA) hari ini. RBA diharapkan masih akan mempertahankan suku bunganya di level 4,75 persen.

Data perekonomian Australia belakangan ini mengindikasikan meredanya tekanan inflasi dan terhambatnya pertumbuhan. Kondisi demikian bisa memaksa RBA mempertahankan suku bunganya untuk jangka waktu yang lebih lama dari yang semula diperkirakan.

RBA dijadwalkan mengumumkan hasil rapat suku bunganya pada pukul 11.30 WIB hari ini. (atz)




(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads