Rupiah Menguat Tipis 1,53% atas Dolar AS

Rupiah Menguat Tipis 1,53% atas Dolar AS

- detikFinance
Selasa, 12 Jul 2011 16:52 WIB
Rupiah Menguat Tipis 1,53% atas Dolar AS
Jakarta - Selama triwulan II-2011, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat menguat 1,53% (ptp) ke level Rp 8.577 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan tetap stabil dengan kecenderungan menguat.

Demikian disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasuiton disela konferensi pers triwulanan di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (12/7/2011).

"Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan tetap stabil dengan kecenderungan menguat meskipun pada tingkat yang lebih terbatas, sejalan dengan berlanjutnya aliran masuk modal asing. Pada triwulan II-2011, nilai tukar Rupiah menguat 1,53% (ptp) ke level Rp 8.577 per dolar AS dengan volatilitas yang tetap terjaga," ujar Darmin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut menurut Darmin sejalan dengan upaya BI untuk meredam tekanan inflasi, khususnya dari imported inflation, dengan tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Penguatan Rupiah yang terjadi masih sejalan dengan tren apresiasi mata uang di kawasan Asia sehingga sejauh ini tidak memberikan tekanan pada kinerja ekspor," terangnya.

Pemulihan Ekonomi Global Berlanjut

Terkait perekonomian global, Darmin mengatakan saat ini proses pemulihannya terus berlanjut, yang tercermin pada peningkatan volume perdagangan dunia. Namun, dijelaskannya prospek ekonomi global dibayangi sejumlah risiko, antara lain terkait krisis utang di Yunani, berakhirnya Quantitative Easing (QE) II oleh the Fed dan melambatnya ekonomi China.

"Risiko tersebut berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2011, meskipun pemulihan ekonomi akan tetap meningkat pada tahun 2012," katanya.

Sementara itu, sambungnya, harga komoditas global masih berada pada level yang tinggi meskipun terjadi koreksi pada harga minyak. Inflasi dunia juga secara umum meningkat, meskipun tekanan inflasi di emerging markets mereda.

"Respons kebijakan moneter di negara-negara emerging markets masih cenderung ketat, sementara di negara-negara maju masih cenderung akomodatif," kata Mantan Dirjen Pajak Ini.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads