Pabrik Aspal Patungan Timah-WIKA Telan Dana Rp 250 Miliar

Pabrik Aspal Patungan Timah-WIKA Telan Dana Rp 250 Miliar

Akhmad Nurismarsyah - detikFinance
Rabu, 13 Jul 2011 12:27 WIB
Pabrik Aspal Patungan Timah-WIKA Telan Dana Rp 250 Miliar
Jakarta -

PT Timah Tbk bersama dengan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) siap mengeluarkan dana patungan investasi pembangunan pabrik aspal di Buton sebesar Rp 250 miliar.

"Untuk dana investasi, perkiraan sementara berkisar Rp 250 miliar," kata Direktur Utama Timah, Wachid Usman ketika ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (13/7/2011).

Dirinya melanjutkan dana patungan tersebut baru digunakan untuk pembangunan skala tahap pertama. "Jadi itu, untuk pengembangan pertama. Kan nantinya akan ada pengembangan dan kebutuhan tambahan lain," lanjut Wachid.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pabrik yang rencananya akan dibangun di kawasan Buton (Sulawesi Tenggara) tersebut sejauh ini sudah melewati proses penandatanganan nota kesepahaman antara Timah dan Wika.

"Saat ini kita dalam tahap penyusunan FS (Feasibility Studies). Mudah-mudahan bulan depan sudah selesai. Kalau sudah selesai, kita akan rencanakan pengembangan pabrik aspal tersebut. Jadi tergantung studinya. Pembangunan pabrik akan membutuhkan waktu satu sampai dua tahun," terangnya.

Adapun, lanjutnya, pembagian saham dalam pabrik tersebut adalah 40% dimiliki Timah dan 60% dimiliki WIKA, Bahan bakunya akan dipasok oleh Timah sedangkan untuk pemasaran selanjutnya akan digarap oleh WIKA.

"Timah akan bergerak di bahan baku dan pengelolaan aspalnya," kata Wachid.

Wachid menambahkan, rencananya, output dari pabrik tersebut rencananya akan dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri. Aspal tersebut nantinya dijadikan bahan campuran (produk aditif). "Jadi, kalau nanti dicampur dengan aspal minyak kualitasnya akan lebih bagus," jelasnya.

"Sekarang pemasarannya masih untuk skala kecil, untuk pasar lokal, mengingat konsunsi dalam negeri membutuhkan jumlah yang banyak," tambahnya.

Gandeng Korsel Bangun Pabrik di Bangka

Timah akan bekerjasama dengan investor asal Korea Selatan terkait rencana pembangunan pabrik timah dengan kapasitas hingga 100 ribu ton. Pabrik itu rencananya dibangun di Pulau Bangka.

"Jadi, dengan pihak Korea Selatan itu, kita meminta waktu untuk penandatanganan MoU selama 6 bulan untuk studi pembangunan pabrik dengan kapasitas 100 ribu ton," jelasnya.

Selain membangun pabrik, kerjasama tersebut juga berencana melirik pengembangan kawasan industri serta pengembangan produk pabrik pengguna timah.

"Studi selesai pada akhir tahun, setelah itu kita akan menandatangani agreement jika layak," tutur Wachid.

Katanya, pabrik tersebut akan memproduksi bahan kimia turunan dari produksi timah. "Kita ingin membuat chemical product turunan timah," ungkapnya.

"Produk tersebut dipakai untuk bahan campuran plastik untuk pengeras,". tambahnya.

Adapun, sejauh ini Timah baru memproduksi produk tersebut dengan jumlah minim, sekitar 10.000 ton. Pihaknya mengaku sudah dapat menguasai teknologi yang dibutuhkan. Hanya saja pihaknya belum memiliki pasar.

"Kita belum ada jaringan di pasaran. Makanya kita ingin kerjasama dalam rangka perluas itu. Demand (permintaan) di Indonesia sendiri belum ada," ujar Wachid.

(nrs/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads