Namun penurunan peringkat AS itu jika benar-benar dilakukan oleh para lembaga pemeringkat internasional, bisa jadi tidak sampai menimbulkan gejolak di pasar finansial. AS saat ini tercatat memiliki peringkat Investment Grade 'AAA'.
"Kalau benar-benar turun, asalkan masih tetap dalam range 'investment grade', menurut saya masih belum akan menimbulkan gejolak besar di pasar global," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Jumat (15/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dari faktor seberapa jauh penurunan peringkat AS, gejolak di pasar surat utang juga akan ditentukan oleh reaksi negara-negara besar yang selama ini memegang surat berharga AS seperti China dan Jepang.
"Kalau rating turun, maka yield US Treasury naik dan harganya turun, sehingga terjadi penurunan harga US Treasury yang pada gilirannya akan menurunkan nilai investasi pada US Treasury. Kalau China dan Jepang membuang US Treasury dalam jumlah besar, inilah yang perlu dicermati dampaknya terhadap pasar keuangan global," urai Rahmat.
Seperti diketahui, Moody's sebelumnya mengeluarkan ancaman akan menurunkan peringkat AS karena meningkatnya kemungkinan AS tidak akan menaikkan batas utangnya hingga tenggat waktu pada 2 Agustus untuk menghindari gagal bayar.
Setelah Moody's, lembaga pemeringkat S&P juga mengeluarkan ancaman serupa. S&P memperingkatkan kemungkinan AS akan kehilangan peringkat 'AAA' karena belum tercapainya kesepakatan antara Presiden Barack Obama dan partai Republik terkait penanganan defisit.
"Debat politik tentang kebijakan fiskal AS dan isu yang berkaitan dengan batas utang pemerintah AS, dalam pandangan kami semakin menjerat," ujar S&P dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP.
"Konsekuensinya, kami meyakini ada peningkatan risiko dari kebuntuan kebijakan yang substansial berlangsung terus diluar kesepakatan jangka pendek untuk menaikkan batas utang," tambah S&P.
Lembaga pemeringkat yang cukup berpengaruh itu mengatakan, paling tidak ada seperdua kemungkinan mereka akan memangkas peringkat utang AS dalam 90 hari, sebuah langkah yang secara pasti akan meningkatkan biaya utang AS.
Dampak ke Indonesia
Terkait dampak ke imbal hasil surat utang Indonesia, Rahmat meyakini tidak akan terlalu signifikan mengingat prospek peringkat Indonesia yang terus meningkat, bahkan diprediksi akan segera naik ke 'Investment Grade'.
"Mungkin tidak signifikan karena prospek kredit rating Indonesia yang akan investment grade, yang artinya kondisi fundamental perekonomian Indonesia termasuk manajemen fiskal, utang dan moneter yang bagus dalam jangka panjang," ujarnya.
"Soal penerbitan global bond, pemerintah tetap menjadwalkan. Tapi keputusan akhir sangat bergantung pada kondisi pasar aat itu. Kalau harga yang diminta investor diluar benchmark harga pasar yang wajar, ya kita tolak," tambah Rahmat.
(qom/dnl)











































