Demikian disampaikan Menteri Badan Umum Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (15/7/2011).
"Bisa saja mengundang project financing, tidak apa-apa. Apakah memanfaatkan FKI atau perbankan. Kalau memang diperlukan energi," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aksi ini terlalu dini. Mereka harus merintis dulu. Untuk menjadi 100% kita tidak menargetkan, tapi dari manajemen ingin itu. Cita-cita manajemen 100% lagi," paparnya.
Langkah yang akan dilakukan Telkom adalah, melakukan pembelian kembali saham Telkomsel milik SingTel. Sedangkan share swap atau tukar saham dengan saham Telkom, akan dilakukan kemudian.
"Strategi yang dipakai buyback dulu. kita sediakan dana, mudah-mudahan bisa dipakai. Buyback menjadi bargaining untuk dipertukarkan," paparnya.
Kementerian BUMN juga belum melakukan komunikasi dengan manajemen Telkom terkait rencana tersebut. "Tidak ada urgensi yang dilihat hingga kita memanggil," imbuhnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan, pihaknya mengkaji share swap atau tukar saham antara 35% saham Telkomsel milik Singapore Telecom Ltd (SingTel) dengan saham perseroan. Hal ini dilakukan demi menguasai kembali 100% saham anak usahanya tersebut.
"Opsi itu (swap) mungkin saja. Hanya saja kalau masalah kepemilikan saham Telkom, itu harus minta izin pemerintah juga. Harus kami konsultasikan lagi. Namun saham Telkom yang memiliki treasury stock," tegasnya.
Perseroan juga menyiapkan opsi lain, seperti penggunaan dana internal dan atau pinjaman perbankan dalam pembelian 35% saham Telkomsel tersebut.
(wep/dnl)











































