Demikian disampaikan Direktur Utama TAM, Denny Taher dalam peluncuran TRAM Pendapatan Tetap USD di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (18/7/2011).
"Produk ini berdenominasi dolar pertama yang diterbitkan TRAM. Produk ini merupakan reksa dana open end kedua, setelah sebelumnya TRAM Consumption Plus di Mei lalu," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam kondisi normal alokasi investasi TRAM Pendapatan Tetap USD akan ditempatkan minim 85-100% pada obligasi dalam negeri, yang telah dijuual dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Minim 0-15% pada obligasi luar negeri yang telah dijual di BEI, dan 0-15% pada pasar uang dalam negeri yang jatuh tempo tidak melebihi setahun," ucapnya.
Reksa dana ini dapat dibeli dengan nominal US$ 1.000 dan yang dijual dengan NAB awal US$ 1. "Profil yang cocok dalam reksa dana ini adalah para investor yang ingin yield (imbal hasil) lebih tinggi, dengan profil risiko menengah hingga agresif," ungkap Direktur TAM, Fajar Hidajat.
Menurut Denny, selama ini penempatan US$ pada deposito kurang optimal. Hingga nasabah yang memiliki simpanan idle dalam denominasi dollar AS, dapat membeli reksa dana TRAM Pendapatan Tetap USD.
"Saat ini obligasi US$ di Indonesia memberi yield paling atraktif di regional dan diminati oleh investor asing. Atas dasar tersebut, sangat bijak untuk memulai investasi di reksa dana secara bertahap, dolar-cost averaging," tegas Denny.
(wep/ang)











































