Hal ini diutarakan Direktur Keuangan Garuda, Elisa Lumbantoruan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (29/7/2011).
"Jangan bandingkan pencapaian saat ini dengan posisi akhir tahun. Selama lima tahun terakhir, semester I rugi tapi kemudian untung," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Haji itu salah satunya, tapi masih ada yang lain," jelas Elisa.
Hal yang sama disampaikan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar. "Secara historis di kuartal I dan II low season. Selanjutnya bagaimana kita siasati dan ke depannya," paparnya.
Garuda mengalami rugi bersih Rp 185,73 miliar di semester I ini. Padahal periode sebelumnya BUMN aviasi mencatat laba Rp 56,33 miliar. Kinerja ini, lanjut Emirsyah, tidak lepas dari kenaikan harga avtur sepanjang Januari-Juni 2011.
Berdasarkan data Garuda, total biaya di semester I-2011 mencapai Rp 6,107 triliun, naik dari periode sebelumnya Rp 4,391 triliun. Porsi bahan bakar menjadi pendorong biaya perseroan, di mana hingga Juni biaya fuel mencapai Rp 2,435 triliun, naik dibandingkan periode sebelumnya Rp 1,46 triliun.
(wep/dnl)











































