Tanpa batas inilah yang menjadikan Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak fluktuatif, mengikuti bursa-bursa dunia untuk mencari keseimbangan baru. Koreksi atau bahkan apreasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi hal yang lumrah.
Sepanjang Januari hingga Agustus ini bisa dikatakan koreksi cukup dalam IHSG telah terjadi dua kali. Pertama, memasuki awal tahun hingga berakhirnya triwulan I-2011. IHSG mengalami negative growth 7-9%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benar saja, sejak itu IHSG terus mengalami apresiasi tanpa ada hambatan sedikitpun. Indeks bahkan sempat mencatat rekor tertinggi 4.193,44 di sesi II perdagangan, Senin (1/8/2011).
Namun itu tak berangsur lama. Setelah penurunan peringkat utang AS oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor's, bursa-bursa dunia kalang kabut. Investor mengalami kepanikan sesaat, dengan melepas sebagian besar portofolio saham.
Penjualan masif efek saham ini juga diikuti investor di pasar modal Indonesia. Akibatnya, IHSG langsung terhempas dan susut lebih dari 12% sejak awal Agustus.
Puncaknya terjadi pada perdagangan pekan lalu (9/8/2011), dimana pada penutupan perdagangan IHSG terpangkas 155,147 poin (3,00%) ke level 3.735,119. Ini merupakan kedua kali IHSG terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.
Namun kembali lagi Ito menegaskan, koreksi IHSG hanya berlangsung sementara. Bahkan ia menjamin usai perayaan hari raya Lebaran Indeks akan kembali berkilau.
"Kalau krisis, mereka (investor) konsolidasi dulu. Satu minggu sehabis Lebaran kita akan kembali lagi. Lagi pula sepanjang kemarin yang keluar Rp 3 triliun, sedangkan sejak awal tahun kita sudah akumulasi Rp 22 triliun. Ini masih sebagian kecil," jelas Ito di kantornya, SCBD, Jakarta Selasa (16/8/2011).
Ia menambahkan, investor pasar modal berfikir realistis. Kondisi terkini, tidak ada tempat yang lebih baik dari Indonesia dalam berinvestasi. Bahkan Indonesia telah mengalahkan China dan India sebagai destinasi utama pemodal-pemodal kakap.
"Investor juga hati-hati dengan China dan India. Pertumbuhan emiten disana tidak sebagus di Indonesia. Return on Equity (ROE) Indonesia paling tinggi 29%, India 19%, China lebih kecil lagi 13-14%," ucap Ito.
"Lalu mereka mau taruh uang kemana? Emiten Indonesia laba rata-rata di triwulan I 30 persen. Tentu prospek ekonomi Indonesia ada, dan kita tidak terpengaruh apa-apa," tegas Ito optimistis.
(wep/qom)











































