Jelang Pilpres
Indeks Saham Melonjak 15 Poin
Jumat, 02 Jul 2004 16:24 WIB
Jakarta - Pemilihan presiden dan wapres yang diprediksi aman dan lancar, telah memberi sentimen positif di BEJ pada akhir pekan, Jumat (2/7/2004). Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) menguat signifikan sebesar 15,217 poin dan ditutup di level 745,025.Indeks LQ-45 yang memuat 45 saham yang paling aktif ditransaksikan naik 4,005 poin pada level 163,686, Jakarta Islamic Index (JII) naik 3,182 poin pada level 125,466, Indeks Papan Utama (MBX) naik 3,990 poin pada level 203,248 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) naik 3,691 poin pada level 167,807.Perdagangan di pasar reguler berlangsung ramai dengan transaksi yang terjadi sebanyak 19.341 kali pada volume 2.477.633 lot saham dan mencatat nilai Rp 776,049 miliar. Sebanyak 102 saham mencatat kenaikan harga, 26 saham mengalami penurunan harga dan 261 saham lainnya stagnan.Di jajaran top gainer, saham-saham yang mencatat kenaikan harga di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 400 menjadi Rp 14.200, Telkom (TLKM) naik Rp 150 menjadi Rp 7.600, Astra Internasional (ASII) naik Rp 150 menjadi Rp 5.750, Indocement (INTP) naik Rp 75 menjadi Rp 1.525, Indosat (ISAT) naik Rp 75 menjadi Rp 4.125, London Sumatera (LSIP) naik Rp 75 menjadi Rp 1.050, Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 50 menjadi Rp 725 dan Bank BRI (BBRI) naik Rp 50 menjadi Rp 1.725.Sedangkan saham-saham yang mengalami penurunan harga di deretan top loser antara lain Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 25 menjadi Rp 1.200, Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) turun Rp 10 menjadi Rp 80, Zebra Nusantara (ZBRA) turun Rp 5 menjadi Rp 60, United Capital Indonesia (UNIT) turun Rp 5 menjadi Rp 100 serta Suba Indah (SUBA) turun Rp 5 menjadi Rp 145.Meski bursa regional rata-rata anjlok pada akhir pekan ini, namun kondisi itu tidak terjadi di BEJ. Pasalnya, investor optimis pelaksanaan pemilu 5 Juli mendatang akan berlangsung aman dan lancar. Hal itu membuat investor berani mengakumulasi saham.Selain itu, tingkat inflasi yang masih terkendali pada Juni 2004 dinilai akan membuat Bank Indonesia (BI) mempertahankan tingkat suku bunga yang ada. Akibatnya, investor menjual dolarnya dan beralih ke pasar saham. Perdagangan Jumat ini adalah perdagangan terakhir sebelum pemilu, karena pada Senin adalah libur nasional pemilu.
(ani/)











































