Menurut ketererangan tertulis manajemen BLTA kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti dikutip detikFinance, Minggu (11/9/2011), pendapatan usaha perseroan di semester I-2011 mencapai US$ 323,11 juta. Padahal di periode yang sama tahun lalu perseroan berhasil mencatat pendapatan usaha US$ 329,66 juta.
Laba kotor perusahaan jasa pelayaran ini merosot dari US$ 72,95 juta di Juni 2010 menjadi hanya US$ 53,32 juta. Laba usaha juga turun 34,45% menjadi US$ 39,48 juta di semester I-2011. Padahal di periode yang sama 2010, BLTA berhasil membukukan laba usaha US$ 60,23 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun total aset ini didominasi oleh ragam kewajiban yang BLTA harus tanggung di masa mendatang, dan hanya menyisakan US$ 839,12 juta yang tercatat sebagai ekuitas.
Namun BLTA melalui Sekretaris Perusahaan Peter Chayson mengaku, kinerja keuangan operasional perseroan telah membaik di triwulan II ini. Perseroan percaya, dengan membaiknya tartif tambang tanker kimia, serta menguatnya pasar FPSO-FSO menjadikan BLTA dapat mempertahankan portofolio usahanya.
Pasar dalam negeri menjadi fokus pengembangan perseroan ke depan. Melalui anak usahanya, PT Buana Listya Tama Tbk (BULL), perseroan siap memanfaatkan penerapan azas Cabotage yang memiliki kontrak-kontrak jangka panjang, nilai tambah yang tinggi dan proyek dengan tingkat pengembalian tinggi.
"Dengan kontrak tersebut, dalam periode yang singkat akan terjadi efek self-deleveraging (penurunan tingkat hutang dengan sendirinya) pada tingkat kewajiban perseroan," ungkap Peter.
(wep/hen)











































