Pemegang Saham INCO Setujui Stock Split 1:4
Selasa, 06 Jul 2004 11:45 WIB
Jakarta - Pemegang saham PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) menyetujui pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:4. Nantinya, satu saham lama akan mendapat empat saham baru.Dengan demikian, jumlah saham beredar INCO akan menjadi 994 juta saham, dibanding saat ini sebesar 248,4 juta saham. Lewat stock split, nilai nominal saham INCO berubah dari Rp 1.000 menjadi Rp 250 per saham."Alasan stock split ini karena banyak yang menyarankan, sebab harga saham INCO dinilai sudah sangat tinggi dan sulit didapat" kata Direktur Utama INCO, Bing R. Tobing, di sela-sela Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (6/7/2004).Menurut Bing, saat ini saham INCO mayoritas dikuasai investor institusi yakni sebesar 80 persen, sedangkan sisanya dimiliki investor retail atau individu.Kenaikan saham INCO yang pada awal tahun lalu hanya sebesar Rp 3.000 sedangkan saat ini rata-rata Rp 34.000, menurut Bing, diakibatkan meningkatnya kinerja perseroan dan kenaikan harga nikel. "Tahun lalu harga nikel sebesar US$ 3 per pon, sekarang US$ 6 per pon," jelasnya.Keputusan stock split ini, menurut Bing, dianggap paling ideal untuk meningkatkan jumlah saham sekarang. "Karena kalau kebanyakan, kita takut saham kita jadi saham recehan," imbuh dia. Diharapkan, dalam waktu 3-4 minggu mendatang, stock split sudah bisa dilaksanakan.Bangun PLTAPada kesempatan tersebut, Bing juga menjelaskan, pihaknya berencana membangun satu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) lagi untuk menambah dua PLTA yang sudah ada. PLTA yang akan dibangun diperkirakan berkekuatan 90-100 megawatt (MW). Sedangkan PLTA yang sudah ada berdaya 165 MW dan 110 MW.Namun Bing belum bisa menjelaskan kapan proyek itu akan dibangun dan berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk membangun PLTA tambahan. Alasannya, perusahaan masih terus mengkaji rencana tersebut. Diakui, penambahan PLTA tersebut karena perseroan berencana meningkatkan produksi nikel dari saat ini sebesar 120 juta pon menjadi 200 juta pon.Mengenai kenaikan harga minyak, dijelaskan Bing, dari setiap peningkatan US$ 1 per barel akan mempengaruhi kenaikan harga nikel US$ 2 sen per pon. Ia menyebutkan, komponen minyak menguasai 1/3 biaya produksi nikel.Lebih lanjut, Bing mengungkapkan, mulai awal tahun depan pihaknya sudah bisa melakukan eksplorasi nikel di Pomala, Sulawesi Tenggara, yang akan dialirkan ke smelter milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Diperkirakan, suplai nikel ke Antam mencapai 1 juta ton per tahun. Saat ini, produksi nikel INCO seluruhnya dijual ke INCO Jepang dan Sumitomo.
(ani/)











































