Analis: SBY-Kalla Relatif Diterima Pelaku Pasar

Analis: SBY-Kalla Relatif Diterima Pelaku Pasar

- detikFinance
Selasa, 06 Jul 2004 13:04 WIB
Jakarta - Hasil sementara pemilihan presiden (pilpres) yang menempatkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla di posisi teratas, mendapat respon positif dari pelaku pasar modal. Pasar relatif bisa menerima duet tersebut."Kita lihat, SBY memang sering disebut-sebut pelaku pasar. Sejauh ini dia juga relatif bisa diterima. Namun kalau dicermati, sebenarnya investor lebih merespon pada lancarnya proses pemilu dibanding figur capres yang ada," kata analis BNI Securities, Fendi Susiyanto, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (6/7/2004).Menurut dia, pasar juga mencermati proses pemilu yang berlangsung secara jujur dan adil. Selain itu, perhatian besar juga diberikan pada masalah keamanan. Pasalnya, pasar amat rentan terhadap isu-isu keamanan seperti terorisme, ketimbang isu politik."Makanya kalau kompetisinya berlangsung fair, saya kira akan berdampak positif terhadap bursa saham. Apalagi, saat ini kondisi eksternal seperti suku bunga The Fed yang naik 25 basis poin, membaiknya rupiah dan inflasi yang terkendali, telah memberi sentimen positif," lanjut dia.Oleh karena itu, sebenarnya terlalu dini untuk menentukan siapa kandidat yang didukung pasar. Selain karena proses penghitungan suara masih berjalan, menurut dia, pelaku pasar sebenarnya lebih melihat program ekonomi masing-masing pasangan."Pasar memang lebih melihat pada program ekonomi mereka. Dari kelimanya, rata-rata pro pasar sehingga secara umum bisa diterima pasar. Hal itu berbeda jauh dengan di India. Saat Sonia Gandhi menang, karena dia dianggap tidak pro pasar dan anti privatisasi, maka indeks saham di sana jatuh hingga 15 persen," paparnya.Mengenai tren pergerakan indeks, Fendi melihat, peluangnya ke depan cukup positif, dimana indeks pada pekan ini diprediksi bisa bertahan di level 780. Namun demikian, ada potensi koreksi teknikal mengingat dua hari terakhir indeks naik signifikan.Demikian pula halnya dengan nilai tukar rupiah. Menurut Fendi, meski hari ini rupiah sempat melampaui level psikologis di Rp 9.000 per dolar AS, namun secara fundamental rupiah diperkirakan akan bertahan di atas Rp 9.000 per dolar AS. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads