"Apa yang terjadi saat ini tidak terlalu mengejutkan. Pasar turun adalah wajar, dan buat apa reaksi berlebihan," ungkap Vice President Riset valbury Asia Futures, Nico Omer Jonckheere dalam perbincangan dengan detikFinance, Jakarta, Kamis (22/9/2011).
Kondisi penurunan terus terjadi sejak awal Agustus. Indeks juga terus melemah hingga sesi II perdagangan hari ini yang masih berlangsung. Posisi IHSG terbenam di level 3.400, atau akhirnya tutup di level 3.369.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat November akan pergerakan, karena ada stimulus lanjutan. Dan ditambah membaiknya data ekonomi Eropa," paparnya.
Pelemahan Indeks dalam negeri menjadi cerminan investor mengalami kepanikan dan lebih memilih mengamankan portofolio investasinya sebelum jatuh lebih dalam. Tercatat seluruh saham mengalami terkena tekanan jual.
Pelemahan rupiah juga tidak kuasa terbendung. Dimana mata uang lokal berada pada level Rp 8.750 per dolar AS, namun lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 8.900 per dolar AS.
Turunnya indeks mengikuti bursa regional yang dipengaruhi oleh data ekonomi China dan pernyataan The Fed terkait peluang memburuknya ekonomi global. "Namun sampai maret tahun depan bisa ada turun kembali, siklus ini akan terus berlangsung hingga 2013," imbuh Nico.
(wep/ang)











































