Bursa Saham Global Berjatuhan

Bursa Saham Global Berjatuhan

- detikFinance
Kamis, 22 Sep 2011 17:32 WIB
Bursa Saham Global Berjatuhan
Jakarta - Hasil pertemuan Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang mencatat adanya risiko penurunan ekonomi yang signifikan direspons negatif oleh seluruh bursa saham global. Ditambah data-data perekonomian yang negatif, bursa global pun kompak melemah.

Kejatuhan bursa global secara serempak ini terjadi pada perdagangan Kamis (22/9/2011), dengan indeks MSCI turun hampor 2,5% mendeketi titik terendah selama 1 tahun terkahir. Untuk regional, pelemahan terbesar dialami oleh indeks saham di bursa Indonesia yang terpangkas hampir 9%.

Berikut posisi penutupan bursa regional pada Kamis:
  • Indeks Komposit Shanghai turun 69,91 poin (2,78%)
  • Indeks Hang Seng merosot 912,22 poin (4,85%)
  • Indeks Komposit KLSE turun 32,32 poin (2.20%)
  • Indeks Nikkei-225 melemah 180,90 poin (2.07%) ke level 8.560,26.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 328,35 poin (8,88%) ke level 3.369,14.
  • Indeks Straits Times merosot 71,26 poin (2,55%) ke level 2.720,53.
  • Indeks S&P/ASX turun 106,9 poin (2,63%) ke level 3.964,9.
Kejatuhan bursa-bursa regional itu juga diikuti oleh bursa-bursa Eropa. Berikut posisi bursa Eropa pada awal perdagangan Kamis:
  • Indeks DAX 30 turun 4,14% ke level 5.209,51.
  • Indeks FTSE 100 merosot 4,19% ke level 5.067,02.
  • Indeks CAC 40 turun 2,66% menjadi 2.857,86.
Sementara bursa Wall Street pada perdagangan sebelumnya juga sudah merosot lebih dari 2%. Indeks future di Wall Street juga sudah dibuka dengan S&P 500, Nasdaq 100, dan Dow Jones futures turun antara 1,4% hingga 1,8%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amblesnya pasar saham ini merupakan respons negatif dari hasil pertemuan Bank Sentral AS. Bank Sentral AS usai melakukan pertemuan selama 2 hari menyatakan perekonomian AS menghadapi proyeksi ekonomi yang seram. The Fed mengatakan ada risiko penurunan yang signifikan pada perekonomian AS meski mereka kemudian mengumumkan sejumlah langkah untuk mendorongnya.

"Indikator-indikator terbaru menunjukkan terus berlanjutnya kondisi pasar tenaga kerja secara keseluruhan dan tingkat pengangguran masih terus meningkat. Ada risiko penurunan yang signifikan pada outlook ekonomi, termasuk ketegangan di pasar finansial global," ujar The Fed dalam pernyataannya seperti dikutip dari Reuters.

Hasil pertemuan Bank Sentral AS juga memutuskan untuk program pembelian surat berharga senilai US$ 400 miliar untuk menekan tingkat suku bunga pinjaman. The Fed akan menjual surat utang pemerintah AS berjangka pendek untuk menukarnya dengan surat utang yang berjangka lebih panjang.

Rencana US$ 400 miliar yang disebut sebagai "Operation Twist" itu justru membuat investor khawatir karena hanya memiliki dampak sedikit pada kredit di tengah perekonomian yang terlihat mengalami stagnasi. Investor kurang optimistis dibandingkan sejumlah kebijakan stimulus yang diluncurkan The Fed sebelumnya.

Pengumuman The Fed soal stimulus sebenarnya sudah diperkirakan, namun pernyataan mengenai 'risiko penurunan yang signifikan' pada perekonomian AS memberikan sentimen negatif.

Sentimen negatif juga datang dari China dan Jerman yang merilis angka pertumbuhan negatif. Data dari China menunjukka aktivitas pabrikan China menyusut selama September, atau sudah berlangsung selama 3 bulan berturut-turut.

Sementara aktivitas bisnis di Jerman juga tumbuh pada tingkat terendahnya dalam 2 tahun terakhir pada September. Order baru juga turun untuk bulan ketiga. Survei itu menunjukkan berkurangnya momentum pertumbuhan ekonomi Jerman yang merupakan perekonomian terbesar di Eropa.

Namun keputusan The Fed itu berimbas positif pada dolar AS yang menguat terhadap hampir seluruh mata uang global. Dolar AS menguat atas SG$ di 1,2629, won Korsel di 1.179,57 dan TW$ di 30,34. Dolar AS juga menguat atas yen ke posisi 76,73.

"Keputusan (The Fed) membawa kekecewaan, dimana the Fed mengumumkan aksi kebijakan yang minimum namun mengumumkan adanya risiko penurunan yang signifikan untuk outlook ekonomi AS," ujar analis valas National Australia Bank, John Kyriakopoulos seperti dikutip dari AFP.
(qom/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads