Demikian disampaikan oleh Sekretaris Kementerian BUMN Mahmudin Yasin ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/9/2011).
"Buyback masih dikoordinasikan di Deputi Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis. Tapi buyback itu urusan korporasi nah kita memang sebagai pemegang saham kita memang di assesment kita lihat dan analisa kondisi pasar dulu," kata Yasin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan yang memberikan pendapat kan yang berkecimpung di pasar modal seperti Bahana, Mandiri Sekuritas nah itu akan dikaji apakah sekarang sudah bisa atau belum maksudnya sudah pada bottom pasar melemah atau belum jangan-jangan nanti masih lemah lagi. Misal sekarang IHSG 3.000 besok bisa 2.800 kan jangan sampai," ungkapnya.
Dihubungi secara terpisah EVP Finance and Strategy Bank Mandiri Pahala Mansyuri mengatakan untuk saat ini bank Mandiri belum melakukan buyback.
"Sejauh ini tidak ada rencana buyback saham," singkat Pahala.
Opsi buy back sempat disuarakan mantan Sekretaris Kementerian BUMN M. Said Didu. Dengan anjloknya IHSG kemarin sekitar 8,88%, perseroan mendapat keuntungan karena harga lebih murah. Pembelian juga membantu bangkitnya pasar.
"Sudah saatnya pemerintah dan BUMN mempertimbangkan cara penyelesaian anjloknya harga saham, seperti pada tahun 2008 lalu," ucap Said.
Saat intervensi dari emiten BUMN yang rata-rata sahamnya blue chip, maka pemulihan pasar bisa lebih cepat. Selain itu, perusahaan plat merah yang membeli kembali sahamnya bisa mendapatkan keuntungan di kemudian hari.
Selain PTBA dan PTPP, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) juga tidak merencanakan aksi pembelian saham milik publik. JSMR mengaku, tidak menganggarkan dana untuk buyback.
(dru/ang)











































