IHSG masih akan terus bergantung kepada kinerja perusahaan BUMN yang mempunyai kapitalisasi pasar hingga 30%. Dalam beberapa hari belakangan pergerakan stabil emitan plat merah berhasil mendongkrak IHSG untuk terus bertahan di posisinya.
Demikian disampaikan oleh Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk Destri Damayanti dalam keterangannya kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (2/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sangat susah diprediksikan IHSG akan bergerak melambung dengan stabil namun justru fluktuasi masih akan terjadi kedepan seiring dengan keputusan di Eropa terkait bailout. Sentimen market global, sambung Destri masih akan terpengaruh oleh keputusan pembayaran utang negara-negara Eropa yang akan jatuh tempo.
"IHSG masih diwarnai oleh panic selling dari new comer retail di pasar domestik. Walaupun secara fundamental Indonesia cukup kuat namun adanya pergerakan panic selling dari investor domestik sendiri perlu diwaspadai karena akan menyebabkan IHSG ambruk," terangnya.
Menurut Destri, saham-saham perusahaan plat merah masih akan menjadi penopang IHSG untuk tetap stabil. Namun, perlu diwaspadai juga kemampuan BUMN dalam corporate action serta kinerjanya untuk terus mempertahankan saham-saham unggulannya.
"Memang perusahaan plat merah masih menopang tingginga IHSG. Dan kinerja positinya menunjukkan IHSG akan terus terbantukan, tetapi bisa bertahan sampai kapan? Karena sebagai perusahaan publik juga kinerja BUMN harus terus mengacu kepada profit oriented atau mencari keuntungan juga oleh sebab itu BUMN harus berhati-hati juga," paparnya.
Menurut Destry, pergerakan IHSG yang serba lamban dan fluktuatif diprediksi akan berlanjut hingga perdagangan terakhir pekan depan.
Seperti diketahui, saat ini terdapat 18 emiten BUMN di bursa. Dimana total kapitalisasi pasarnya mencapai 30% dari market caps di bursa. Kinerja 18 emiten tersebut saat ini bisa dibilang sebagai penopang kinerja IHSG.
Destri menambahkan, pelemahan IHSG memang sebagian besar tidak berdampak pada kinerja saham sebagian besar emiten BUMN di bursa. Saat ini, Investor tengah memburu saham BUMN, yang dinilai berisiko rendah ketimbang saham emiten dari sektor private.
"Namun perlu diperhatikan lebih jauh mengenai kapasitas BUMN tersebut, karena kembali kepada alasan perusahaan dimana keuntungan juga harus didapatkan. Apalagi BUMN, jika tidak hati-hati dalam meminimalisir kerugian maka bisa-bisa dipanggil KPK," terangnya.
Lebih jauh, kinerja BUMN memang terlihat lebih baik ketika kebijakan pemerintah diberlakukan untuk mengurangi porsi dividen BUMN ke pemerintah. Hal itu bertujuan agar BUMN memiliki room untuk ekspansi dan belanja modal. Emiten BUMN di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau disebut juga emiten BUMN menyetor dividen sebanyak Rp 23,29 triliun atas kinerja tahun buku 2010. Dividen ini termasuk interim yang sudah dibayarkan tahun lalu.
Dividen tersebut setara 89,57% dari target setoran BUMN tahun ini yang telah ditetapkan pemerintah sebanyak Rp 26 triliun. Dari total 18 perusahaan pelat merah yang melantai di bursa, dua tidak menyetor dividen dengan alasan kinerja. Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar mengungkapkan setoran dividen di 2011 akan dikurangi agar perusahaan bisa fokus meningkatkan kinerjanya.
(dru/dru)











































