BEI: Investor Domestik Jadi 'Bemper' Pasar Modal

BEI: Investor Domestik Jadi 'Bemper' Pasar Modal

Ramdhania El Hida - detikFinance
Senin, 03 Okt 2011 14:02 WIB
BEI: Investor Domestik Jadi Bemper Pasar Modal
Nusa Dua -

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pertumbuhan investor domestik semakin tinggi dari tahun ke tahun. Banyaknya investor domestik ini bisa menahan koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Demikian hal itu diungkapkan Direktur Utama BEI Ito Warsito di sela forum The 2011 Asian Roundtable on Corporate Governance, di Nusa Dua, Bali, Senin (3/10/2011).

"Investor domestik sekarang semakin baik. Retail terutama. Investor domestik kita bertambah 200.000 dalam 2 tahun terkahir saja. Itu investor saham saja. Tidak termasuk reksadana, dan lain-lain. Itu sudah cukup jadi bemper pasar modal kita," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain makin banyak, kata Ito, investor domestik RI sekarang ini makin pintar dan dewasa. Tidak lagi tergantung kepada investor asing seperti dulu, apalagi sampai mengekor transaksi.

"Itu memang investor domestik kita makin dewasa, makin pandai, sangat beda dengan 2008 di mana saat investor asing jualan mereka panik, tahun 2011 investor Indonesia tidak lagi panik pada saat investor asing jualan seperti 2008. Sehingga indeks kita relatif cukup bagus," ujar Ito.

Ito mengatakan, investor domestik mendominasi transaksi harian rata-rata di bursa, porsinya mencapai 66%. Tahun 2011 ini, transaksi rata-rata harian itu sekitar 115.000, tumbuh pesat jika dibandingkan tahun 2005 lalu yang hanya sebanyak 16.000 transaksi.

"Itu (naik) lebih dari 6 kali lipat. Itu sebetulnya salah satu indikasi investor domestik kita makin kuat dibanding tahun 2008," imbuhnya.

Ito memastikan koreksi yang terjadi pada IHSG akhir-akhir ini hanya terkena sentimen negatif dari pasar regional dan global. Karena sebetulnya, fundamental bursa lokal masih sangat kuat dan terus tumbuh.

Dengan demikian, Ito menyatakan, koreksi tajam tersebut hanya akan terjadi sementara dan tak lama lagi berakhir.

"Secara fundamental kita kuat semua sektor, pertumbuhan ekonomi, sosial politik, keamanan stabil, kinerja emiten kuat, pertumbuhan laba masih di atas 30%-an. Mungkin masih bisa 40%," ujarnya.

Hingga penutupan perdagangan sesi I, IHSG anjlok 143,596 poin (4,05%) ke level 3.405,436. Sementara Indeks LQ 45 terjun 27,933 poin (4,49%) ke level 594,703.

Indeks dibayang-bayangi banyaknya sentimen negatif, antara lain lemahnya data ekonomi China, potensi gagal bayar Yunani dan potensi lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads