Koreksi indeks Dow Jones dan S&P 500 terjadi setelah keluarnya laporan keuangan JPMorgan dan data perdagangan di China menunjukkan pelemahan, sehingga menambah kekhawatiran dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi pada perolehan laba.
Surplus perdagangn China tercatat mengecil untuk bulan kedua berturut-turut pada September karena angka impor dan ekspor sama-sama mencatat penurunan dari ekspektasi. Hal itu semakin menggarisbawahi melemahnya permintaan domestik dan global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Kamis (13/10/2011), indeks Dow Jones ditutup melemah 40,72 poin (0,35%) ke level 11.478,13. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 3,59 poin (0,30%) ke level 1.203,66 dan Nasdaq menguat 15,51 poin (0,60%) ke level 2.620,24.
Saham JPMorgan Chase & Co merosot hingga 4,8% menjadi US$ 31,60 dan menjadi penyeret terbesar Dow Jones. Penurunan harga saham bank terbesar kedua di AS itu terjadi setelah melaporkan pendapatannya yang turun selama kuartal III. Laporan keuangan tersebut sekaligus melengkapi kekecewaan investor terhadap laporan keuangan Alcoa.
"Ini masih awal, tapi seperti memiliki serangkaian pendapatan korporasi besar di tengah angka-angka makro ekonomi yang tidak terlali baik, sekarang mungkin kita melihat sedikit kurang baik dari laporan keuangan perusahaan," jelas Eric Kuby, chief investment officer North Star Investment Management Corp seperti dikutip dari Reuters, Kamis (14/10/2011).
Laba perusahaan yang sehat sejak Maret 2009 lalu merupakan faktor pendorong terbesar pada kenaikan saham-saham.
Perdagangan tidak terlalu ramai, dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 7 miliar lembar saham, di bawah rata-rata harian yang sebesar 8 miliar lembar saham.
(qom/qom)











































