Euforia Pemilu Habis, Pasar Fokus Kembali Masalah Global

Euforia Pemilu Habis, Pasar Fokus Kembali Masalah Global

- detikFinance
Senin, 12 Jul 2004 12:33 WIB
Jakarta - Euforia pasar terhadap pemilu presiden yang berlangsung aman diyakini sudah berakhir. Pasar kembali fokus ke masalah global seperti inflasi global dan naiknya lagi harga minyak yang menyentuh level US$ 40 per barel. "Pasar sudah mencerminkan pemilu presiden yang lancar dalam rally 11 hari terakhir ini. Sekarang pasar mencari fokus yang lain terutama masalah-masalah global, sehingga minat beli sekarang belum kelihatan," kata Head of Research DBS Vickers Securities, Ferry Y Hartoyo kepada wartawan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Senin,(12/7/2004). Meski demikian menurut Ferry, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpeluang menguat karena trend rupiah masih positif karena penguatannya terus berkesinambungan. Namun lanjut Ferry, penguatan indeks ini kenaikannya bisa terbatas karena faktor eksternal. Kenaikan kembali harga minyak ke level US$ 40 per barel, serta sentimen di pasar AS dari laporan-laporan keuangan oleh perusahaan besar yang tidak menggairahkan dan terakhir adanya ancaman teroris menjelang pemilu presiden AS bulan November mendatang. "Jadi kekhawatiran-kekhawatiran ini akan terus menghantui sentimen di pasar modal secara global yang juga tidak terlepas dari sentimen pasar lokal yang saat ini sangat tergantung dengan flow of funds (aliran dana dari luar negeri)," katanya. Kenaikan harga minyak yang masih terus tinggi yang diikuti harga komoditas yang juga naik seperti batu bara, nikel, emas menurut Ferry, sebenarnya menjadi pemicu inflasi global yang terkait dengan tekanan bunga di AS yang juga akan mempengaruhi pasar global termasuk tekanan bunga di dalam negeri. Dijelaskan Ferry, walaupun tekanan kenaikan bunga di AS saat ini belum terasa, tapi itu nantinya akan tergantung kepada seberapa agresif kebijakan bank sentral AS untuk menggenjot kenaikan bunga dengan melihat faktor big inflation di AS. "Maka itu kita harus pantau terus data-data ekonomi di AS sepanjang minggu ini termasuk CPI data (data inflasi) untuk bisa mengukur seberapa agresif kenaikan suku bunga di AS," kata Ferry. Saham-saham yang direkemondasikan untuk dibeli dalam situasi saat ini adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Energi Mega Persada Tbk (ENRG), INCO. Sedangkan saham properti yang fundamentalnya kuat juga direkomendasikan, karena properti bisa dijadikan alat hedging untuk inflasi seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Selain itu, upaya yang dilakukan pemerintah untuk proyek-proyek awal seperti pembangunan bandara Juanda, Jalan tol dan pembangunan jalan Suramadu akan meningkatkan penggunaan semen yang berdampak pada saham-saham seperti PT Semen Gresik Tbk (SMGR) dan PT Semen Cibinong Tbk (SMCB). Banyaknya proyek infrastruktur tersebut juga akan meningkatkan tenaga kerja, dimana dengan adanya tenaga kerja baru akan menaikkan kebutuhan konsumsi. Sehingga saham-saham rokok seperti Bentoel, saham ritel Ramayana dan Mayora juga berpeluang menguat. (nit/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads