Chandra Asri Bidik Rp 2,55 Triliun dari Rights Issue di 2012

Chandra Asri Bidik Rp 2,55 Triliun dari Rights Issue di 2012

- detikFinance
Senin, 24 Okt 2011 13:49 WIB
Chandra Asri Bidik Rp 2,55 Triliun dari Rights Issue di 2012
Jakarta - PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) siap melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) atau rights issue kembali di triwulan I-2012, setelah ditunda pada pertengahan tahun ini. Perseroan menargetkan dana HMETD sebesar US$ 300 juta atau sekitar Rp 2,55 triliun.

"Juni (2011) kita mau melakukan rights issue, tapi ditunda. Tahun depan kita lakukan, namun akan lihat kondisi pasar di dalam negeri atau luar negeri," ungkap Corporate Secretary & Investor Relations Director TPIA, Suryandi, di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Senin (24/10/2011).

Ia menambahkan, penerbitan saham baru dimaksudkan untuk memperbesar saham publik, dengan target sekitar 30% dari total modal disetor dan ditempatkan. Hasil penjualan saham baru akan digunakan untuk belanja modal khususnya pada peningkatan kapasitas produksi cracker, polyethylene, butadiene, butene-1 dan berbagai produk petrokimia lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Total capex kita US$ 420 juta, dan pernah kami sampaikan untuk ekspansi cracker, polyethylene, butadiene. Rights issue mudah-mudahan di kuartal I tahun depan," katanya.

Sebelumnya, Presiden Direktur TPIA Erwin Ciputra pernah menyampaikan akan menggelar rights issue dengan menerbitkan 20% saham baru dari total modal disetor dan ditempatkan. Perseroan membidik investor stratagis melalui penawaran terbatas.

Pemegang saham lama, yakni PT Barito Pacific Tbk, Marigold Resources Pte. Ltd dan Apleton Investment Ltd hingga kini berkomitmen untuk tidak melaksanakan HMETD-nya. Sedangkan SCG Chemicals CO. Ltd. sebagai investor baru, berkomitmen berpartisipasi dalam PUT tersebut.

Atas kondisi ekonomi yang belum menentu, Suryandi memprediksi total produksi perseroan tahun 2011 akan menurun 10%.

"Pada kuartal III produksi melemah, karenaa ekonomi lemah. Karena utang Yunani, Portugal, Spanyol belum selesai. China juga mengetatkan kredit, sehingga margin laba usaha melemah. Secara volume, kuartal III ada efek lebaran, hingga tidak bisa deliver. Selama 4 hari di September juga sempat ada gangguan listrik," tegasnya.

Seperti diketahui, pada Juni 2011 perseroan memulai pembangunan pabrik butadiene pertama di Indonesia dan akan rampung pada 2013. Investasi pabrik mencapai US$130 juta, dengan kapasitas produksi 100 ribu ton per tahun dan selanjutnya akan dioperasikan oleh anak perusahaan CAP, yaitu PT Petrokimia Butadiene Indonesia.

Produksi butadiene yang merupakan bahan baku Karet Sintetis atau Styrene Butadiene Rubbet, tersebut terutama akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan selebihnya akan diekspor.

Selain itu, perseroan juga akan mengembangkan produk Butene-1 yang merupakan bahan baku produksi Polyethylene jenis LLDPE di tahun 2012. Sementara peningkatkan kapasitas produksi juga terjadi cracker, dari 600 ribu ton per tahun menjadi 1 juta ton per tahun serta polyethylene dari 320 ribu ton per tahun menjadi 536 ribu ton per tahun dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun mendatang.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads