Perdana Menteri Yunani George Papandreou secara mengejutkan membuat pengumuman akan mengadakan referendum atas rencana penyelamatan dari Eropa yang bernilai 130 miliar euro. Yunani juga mengajukan rencana untuk penghapusan 50% dari utangnya yang maha besar.
Papandreou yang memiliki 153 perwakilan di 300 kursi parlemen telah menghadapi peningkatan ketidaksepakatan di dalam partainya sendiri berkaitan dengan kebijakan penyelematan ekonomi yang lebih ketat dan dimonitor Uni Eropa serta IMF. Hal itu juga telah memicu aksi pemogokan dan meluasnya protes, yang sebagian besar rusuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebuah ekspresi kepercayaan pada kebijakan yang akan diikuti lebih penting dari apapun. Perintah dari masyarakat Yunani akan mengikat kita," ujar PM Papandreou seperti dikutip dari AFP, Selasa (1/11/2011).
"Apakah mereka ingin mengadopsi kesepakatan baru atau menolaknya? Jika penduduk Yunani tidak menginginkannya, maka tidak akan diadopsi," ujarnya setelah protes melanda negeri tersebut merespons kebijakan austerity-nya.
Rencana Yunani itu langsung menaikkan kemungkinan gagal bayar utang jika Yunani benar-benar menerapkan voting. Kekhawatiran investor adalah krisis bisa meluas ke negara lain di Eropa yang lebih signifikan seperti Italia.
Bursa Yunani langsung merosot hingga 6,24% menjadi 758,11. Demikian pula bursa-bursa Eropa langsung ikut berjatuhan, indeks DAX 30 Frankfurt merosot 4,4% ke level 5.872,17, indeks CAC 40 Paris merosot 108,69 poin ke level 3.135,15. Saham-saham sektor finansial mengalami tekanan paling besar.
Padahal sebelumnya investor sudah merasa optimistis setelah para pemimpin Eropa berhasil mencapai kesepakatan untuk menyelamatkan krisis dan mencegahnya merambat ke krisis finansial. Kesepakatan para pemimpin Eropa dicapai pekan lalu dan sempat membuat bursa saham mengalami hingar bingar.
Padhraic Garvey, analis dari ING mengatakan, referendum itu secara efektif akan menjadi voting pada partisipasi Yunani di Eropa.
"Secara refinisi, resistensi pada paket bailout itu akan berimplikasi pada preferensi untuk menemukan rute lainnya dan satu-satunya rute yang memungkinkan adalah keluar dari Euro," ujar Garvey .
(qom/ang)











































