"Noble membeli 10% dari total. Mereka mau masuk, setelah sebelumnya ia juga telah memiliki," kata Head of Investment Banking UBS Securities, Rajiv Louis di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD Jakarta, Selasa (8/11/2011).
Ia menerangkan, selain Noble masih banyak institusi lain yang membeli saham perdana Atlas. Pada penawaran umum lalu, mayoritas saham diserap oleh institusi. Menurut data perseroan, 91,64% saham Atlas terjual oleh investor institusi. Sisanya, 8,36% ritel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rajiv mengatakan, minat institusi akan saham Atlas sudah diprediksi sebelumnya. Pasalnya, cadangan batubara perseroan tergolong lengkap, mulai dari kalori rendah, tinggi, hingga hard coking coal.
"Pada tahun ini, total produksi Atlas bisa 1,6 juta ton. Dan tahun depan bisa 4 juta ton. Ini belum dari rencana IPO," tambahnya.
Saat dana IPO masuk dan digunakan untuk peningkatan fasilitas infrastruktur tambang di Sumatera Selatan, perseroan lebih optimis akan jumlah produksinya. "Dengan tambahan IPO bisa 5-6 juta ton. Bisa dibayangkan kenaikannya. Bukan banyak 20-25%. Bisa tiga kali lipat," imbuhnya.
Pada penawaran terbatas (pooling) kepada investor ritel dalam negeri pada 1-3 November lalu, terdapat minat pembelian sebesar Rp 61,5 miliar, dan porsi Rp 9,75 miliar.
Seperti diketahui, saham ARII listing perdana di Bursa hari ini. Pada awal perdagangan, saham Atlas stagnan Rp 1.500, dan sesaat kemudian naik tipis menjadi Rp 1.520. Perseroan menunjuk PT UBS Securities Indonesia dan PT Indo Premier Securities sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Hingga pukul 10.50 waktu JATS, harga saham ARII naik 40 poin (+2,67%) ke posisi Rp 1.540 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 1.118 kali dengan volume 64.317 lot senilai Rp 49,1 miliar.
(wep/ang)











































