Banjir Thailand Ganggu Target Penjualan Kaca Mobil Asahimas

Banjir Thailand Ganggu Target Penjualan Kaca Mobil Asahimas

- detikFinance
Selasa, 08 Nov 2011 13:42 WIB
Banjir Thailand Ganggu Target Penjualan Kaca Mobil Asahimas
Jakarta - PT Asahimas Flat Glass (AMFG) pesimistis dapat melampui target pendapatan di 2011, akibat banjir Thailand yang mempengaruhi secara tidak langsung penjualan kaca lembaran dan kaca otomotif perseroan.

Menurut Head of Marketing AMFG, M Amien, di awal tahun perseroan menargetkan kenaikan pendapatan 10% dibandingkan 2010. Namun karena banjir di Thailand belum juga surut, mengakibatkan penjualan kaca ke industri otomotif diprediksi turun.

"Kita prediksi di awal sedikit lebih baik, baik volume atau nilai penjualan. Kita tahun banjir di Thailand ada pengaruh kepada pasokan sparepart. Kita pasok kaca otomotif untuk Toyota, Honda, dan Nissan," ungkap Amien di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Selasa (8/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Total penjualan perseroan di 2010 mencapai Rp 4,25 triliun, dengan produksi mencapai 3,4 juta meter persegi. Tahun ini, produksi Asahimas diprediksi mencapai 4,25 juta meter persegi, baik kaca lembaran atau kaca otomotif.

"Sampai triwulan III, penjualan mudah-mudahan lebih baik. Namun di triwulan ini nampaknya ada penurunan, hingga sampai dengan akhir tahun kurang lebih sama (penjualan). Kalau pun nantinya naik, tidak signifikan," katanya.

Direktur Corporate Secretary Asahimas, Rusli Pranadi menambahkan, atas turunnya demand kaca otomotif di Thailand, perseroan bersiap membuka pasar baru ke negara lain. Negara yang perseroan bidik adalah, India dan Timur Tengah.

"Pasar kami selama ini lebih banyak ke Jepang dan Thailand. Maka kami bukan ke selain itu, ke negara yang potensi dampak krisisnya minim," tegas Rusli.

Pada 2011 perseroan menganggarkan belanja modal US$ 20 juta. Sekitar US$ 6 juta merupakan Capital Expenditure (Capex) rutin, sisanya digunakan untuk investasi lahan di Karawang US$ 14 juta. Pada Oktober lalu, Asahimas telah melakukan pembayaran tahap pertama US$ 3,97 juta.

"Jumlah investasi land development yang dibutuhkan US$ 14 juta dan diperkirakan selesai dalam waktu satu tahun," imbuhnya.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads