Saham Garuda Masih Jeblok, Kementerian BUMN Minta Maaf

Saham Garuda Masih Jeblok, Kementerian BUMN Minta Maaf

- detikFinance
Rabu, 09 Nov 2011 18:08 WIB
Saham Garuda Masih Jeblok, Kementerian BUMN Minta Maaf
Jakarta - Kementerian BUMN meminta maaf kepada investor yang membeli saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Karena sampai hari ini harga saham Garuda masih berkutat di Rp 425 per lembar, jauh dari harga awal pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) Rp 750 per lembar.

Demikian disampaikan Asisten Deputi Bidang Usaha Industri dan Manufaktur II, Kementerian BUMN Gatot Trihargo saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (9/11/2011).

"Kami minta maaf pada orang yang ada di sini, yang membeli saham IPO Garuda kemarin," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada pencatatan (listing) perdana, saham Garuda langsung turun ke level Rp 700 dari harga perdana Rp 750. Rontoknya harga saham Garuda terus terjadi, bahkan hingga kini masih berkutat di level rendah Rp 425 per lembar. Ini berarti publik yang membeli saham maskapai plat merah itu saat penawaran umum di Februari 2011 sudah merugi 43,3%.

"Padahal biasanya kalau harga IPO sudah diskon," tutur Gatot.

Kinerja saham Garuda jauh berbeda dengan BUMN lain yang telah listing sebelumnya. Bahkan catatan fenomenal terjadi pada saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Saham BUMN baja ini mengalami kenaikan 47% ke level Rp 1.250 dari harga perdananya Rp 850.

Saking tingginya, IPO KRAS bahkan menjadi pembicaraan publik karena dugaan permainan terselubung di Kementerian BUMN. Atas kedua IPO terakhir ini, Kementerian BUMN berjanji akan lebih berhati-hati dalam merumuskan harga IPO perusahaan plat merah selanjutnya.

Tahun ini praktis hanya Garuda Indonesia yang melaksanakan IPO. Jumlah ini minim, dibanding periode sebelumnya. Sejatinya, PTPN juga akan melaksanakan penawaran perdana saham. Namun, karena harus ada peleburan terlebih dahulu, hingga rencana ini tertunda.

Dalam perkembangannya, holding PTPN dari 14 perusahaan berbeda ini akan selesai sebelum akhir 2011. "Kami harapkan selesai tahun ini. Kalau sudah selesai bisa leverage luar biasa, sekitar Rp 20 triliun," tuturnya.

(wep/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads