Asing Masih Beli Saham RI Rp 140 Miliar di Oktober

Asing Masih Beli Saham RI Rp 140 Miliar di Oktober

- detikFinance
Jumat, 11 Nov 2011 11:06 WIB
Jakarta - Meskipun pasar saham global masih terguncang di Oktober, namun investor asing masih mencatatkan net beli senilai Rp 140 miliar. Nilai ini naik tipis dibanding September yang Rp 80 miliar.

Demikian isi Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) BI November yang dikutip, Jumat (11/11/2011).

"Relatif terbatasnya peran asing selama dua bulan terakhir terkait dengan masih tingginya ketidakpastian perekonomian global yang antara lain dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian penyelesaian krisis utang Eropa terutama setelah pemerintah Jerman menyatakan bahwa krisis utang Eropa belum mendapatkan solusi dalam pertemuan negara-negara Eropa. Lalu penurunan peringkat sovereign dan obligasi Spanyol oleh Moody’s dari A1 ke AA, dan ketiga kekhawatiran perlambatan ekonomi China," demikian isi TKM tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BI mengklaim, penurunan suku bunga acuan BI Rate 25 bps di Oktober menjadi 6,5% berdampak positif terhadap perkembangan pasar saham domestik. Perkembangan positif dari fundamental ekonomi yang kondusif antara lain tercermin dalam inflasi yang terkendali, prospek pertumbuhan ekonomi yang baik, serta nilai tukar rupiah yang relatif stabil.

Dari sisi mikro emiten, perkiraan kinerja keuangan emiten domestik akan terus membaik menciptakan optimisme di pasar saham.

Sementara itu, dari eksternal yang mendukung perbaikan di pasar saham antara lain:
  • Optimisme investor terhadap keputusan EU Summit yang akan menambah dana talangan The European Financial Stability Facility (EFSF) dari 440 miliar euro menjadi 1 triliun euro (setara dengan US$ 1,4 triliun), pemotongan 50% utang Yunani bagi pemegang obligasi dan program rekapitalisasi perbankan
  • Rilis data perekonomian Asia dan AS serta laporan pendapatan beberapa emiten AS yang menunjukkan peningkatan
  • Peningkatan harga minyak mentah dunia hingga 93 dolar AS per barel. Dengan perkembangan tersebut, IHSG tercatat meningkat sebesar 6,8% ke level 3.790 pada 31 Oktober 2011
Pertumbuhan IHSG juga ditopang oleh pertumbuhan sektoral yang cukup merata. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh sektor pertambangan yang mengalami penguatan sebesar 9,6%.

Penguatan juga dialami oleh sektor keuangan dan industri dasar. Secara umum, penguatan indeks sektoral tersebut ditopang oleh membaiknya fundamental mikro emiten.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan rata-rata laba bersih emiten LQ 45. Sampai dengan kuartal III-2011, laba bersih emiten kelompok LQ 45 secara rata-rata tumbuh sebesar 26,3% dibandingkan kuartal III 2010.

Pertumbuhan tersebut sebagian besar disumbang oleh sektor perbankan, pertambangan, perkebunan dan properti. Tren suku bunga dan inflasi yang rendah menjadi penopang utama pertumbuhan emiten sektor keuangan dan properti. Sementara itu, tren kenaikan harga komoditas tambang berdampak positif terhadap harga saham sektor pertambangan terutama yang berbasis batubara.
Surat Utang Pemerintah Masih Laku Rp 74 Triliun
Selama Oktober, surat utang negara (SUN) juga masih diborong investor asing senilai Rp 73,9 triliun. Setelah sebelumnya, investor asing melakukan aksi jual Rp 23,9 triliun di September.
Aksi beli ini dinilai BI didukung oleh faktor makro dan risiko fiskal yang terkendali. Asing memborong jangka pendek dan menengah.
(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads