"Ada memang saham yang relatif hot, dan cukup banyak keluhan sulit untuk mendapatkan itu (dari investor). Kita sedang diskusi dengan Bapepam-LK kemungkinan adanya pengaturan," ucap Direktur Penilian Perusahaan BEI, Eddy Sugito di kantornya, SCBD, Jakarta, Senin (21/11/2011).
Namun otoritas pasar modal tidak akan gegabah dalam pengaturan ini. BEI tidak ingin justru dengan pengaturan menjadi bumerang bagi pasar modal. Pasalnya pasar modal sangat dinamis, hingga jangan ada pengaturan penjatahan yang terlalu kaku.
"Ga bisa terlalu kaku, 10% ritel karena pasar dinamis. Kita harus cermati secara komprehensif, karena nanti jangan-jangan menjadi bumerang," ucapnya.
Eddy menambahkan, BEI tengah melakukan studi kasus pada bursa-bursa lain di dunia, terkait rencana pengaturan penjatahan saham IPO bagi investor ritel.
"Yang ada di Hongkong, ada pengaturan dan tidak terlalu direkomendasikan oleh investment banker. Karena perlu ada adjustment. Kita ingin formulasi yang lebih Indonesia. Ini aturan yang ada di Bapepam-LK," tutur Eddy.
Selama ini, penjatahan atas saham perdana memang tidak diatur oleh otoritas. Pengaturan merupakan hak manajer penjatahan, dalam hal ini penjamin emisi (underwriter). Manajer penjatahan adalah pihak yang mengetahui situasi pasar. Ia juga tahu akan investor mana yang cocok untuk menyerap saham-saham IPO.
Meski demikian, Bapepam-LK memiliki hak untuk mendorong calon emiten untuk memperbesar porsi ritel saat terjadi minat yang tinggi."Bapepam punya kapasitas, kalau pasar hot mereka beri arahan. Ini harus tambah ataau diperbanyak," tegas Eddy.
Eddy pun mengakui atas minimnya partisipasi investor ritel pada penawaran umum saham perdana. Rata-rata calon emiten hanya memberi jatah 3-5% dari total saham publik, kepada investor ritel.
Rencana pengaturan dalam penjatahan saham IPO, ditolak tegas pelaku. Direktur Invesment Banking PT Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra menyebut, penjamin emisi lah yang mengetahui konsumen. Prioritas investor ritel atau institusi merupakan hasil analisa dari tim penjamin emisi, bukan karena adanya pembatasan seperti itu.
"Yang cocok yang mana, dan matching, kita yang lebih mengenal terhadap konsumen," tambah Vicky.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saham PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) juga serupa. Dari 15% saham yang ditawarkan, 12% bahkan telah diserap oleh investor strategis GMR Singapura Pte Ltd. Publik hanya mendapatkan sisa saham 3% dari total saham IPO 882,353 juta lembar.
"Tapi yang 12% sudah diambil GMR dan sisanya baru untuk publik," kata Komisaris Utama GEMS Fuganto Widjaja waktu itu.
Jika ditelaah lebih jauh, prioritas oleh investor ritel sangat dipahami saat kondisi pasar modal masih volotile. Penjamin emisi tentu tidak ingin mengambil risiko, jika saham lebih banyak diserap investor ritel.
Saat terjadi gejolak dan sentimen negatif terus menggelayut, ritel bisa saja menjual rugi (cut loss) saham yang telah mereka koleksi. Sehingga tidak menjamin performa harga saham. Padahal tiap emiten menginginkan saham mereka dibeli oleh investor jangka panjang, sehingga kinerja saham berkilau. Minimal tidak jeblok diawal listing.
(wep/ang)











































