"KRAS untuk capex mungkin sekitar US$ 400-450 juta. Dan digunakan untuk berbagai proyek," kata Direktur Keuangan Krakatau Steel Sukandar, di Hotel JW Marriot, Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Ia menerangkan, pembangunan blast furnace masih dalam tahap pematangan. Perseroan telah mendapat penawaran pinjaman US$ 450 juta dari konsorsium Shuma Bank. Target perolehan dana di Februari atau Maret 2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebutkan, pembangunan pabrik baja bertanur tinggi berupa EPC (Engineering Procurement Contract) dan dilakukan oleh kontraktor. Pabrik Blast Furnace rencananya memiliki kapasitas 1,2 juta ton, dengan rencana pembangunan selesai di triwulan I-2014.
Pabrik yang akan dibangun ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukungnya termasuk sintering plant, coke oven plant, iron ore material handling system, hot metal handling, dan lain-lain.
Pabrik baru berlokasi di Cilegon. Pabrik ini akan melengkapi unit pengolahan besi yang sudah ada yaitu direct reduction, yang selama ini berbahan bakar gas. Nilai investasi pabrik ini diperkirakan mencapai Rp 5,92 triliun.
Perseroan juga tengah menyelesaikan revitalisasi direct reduction plant (DRP). Proyek ini dikerjakan oleh HYL Technologiest S.A. C.V, Krakatau Engineering dan Honeywell. KRAS juga akan membangun slab steel plant, yang kini baru menyelesaikan 57,6% pengerjaan.
Sementara, proyek pengolahan bijih besi hasil kerja sama dengan PT Aneka Tambang, berupa rotary kinn hampir selesai. Sementara pembangkit listrik, baru selesai 63,9% dan dikerjakan oleh kontraktor Oschatz.
"Kami juga lakukan Hot Stri Mil 2,4 juta ton per tahun menjadi 3,5 juta. Infrastruktur pelabuhan juga dilakukan, juga power plang, dan suplai air untuk blast furnace dan JV KS-Posco," tambahnya.
(wep/ang)











































