"Nigeria memang memiliki potensi, pada tambang, gas. Kalau pun disana, akan ada risiko keamanan dan politik," kata Analis PT Samuel Sekuritas Adrianus Bias Prasuryo di Jakarta, Jumat (12/9/2011).
Menurutnya, langkah Bakrie menjadi langkah awal. Penjajakan pasti telah dilakukan, dengan melakukan investasi US$ 1 miliar dalam dua tahun pertama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di posisi saat ini, Bakrie tidak bisa sendiri. Mereka kan sudah menggandeng mitra setempat, Delona dengan membentuk Bakrie Delano Africa Nigeria Limited. Lobi pemerintah Nigeria pasti telah dilakukan," tuturnya.
Ia melanjutkan, posisi Bakrie adalah funding source. Sedangkan, pengusaha setempat menjadi penggerak perusahaan, meski grup ini memiliki kemampuan di bidang pertambangan, minyak atau karet.
Saat proyek ini berjalan, dipercaya Bakrie akan lebih ekspansi untuk menggarap sektor infrastruktur, khususnya pembangkit listrik dan gas. "Nigeria masih belum terlalu didevelop. Dengan masuk ke sana, pasti harga investasi menjadi lebih murah. Namun kembali risiko investasinya tetap ada," papar Bias.
Pada pemberitaan AFP sebelumnya, Bakrie memang menyepakati investasi di Nigeria dengan jumlah besar. Tidak tanggung-tanggung, US$ 960 juta siap diinvestasikan ke dua negara bagian di selatan Nigeria, Ogun dan Akwa Ibom.
"Nigeria adalah sebuah negara berkembang. Berdasarkan laporan dari Bank Dunia, Nigeria dikategorikan sebagai negara dengan pendapatan menengah didukung oleh besarnya sumber daya alam, sistem hukum dan finansial yang berkembang baik, komunikasi, sektor transportasi dan bursa saham, yang merupakan terbesar kedua di Afrika," jelas Indra Bakrie dalam pernyataannya.
(wep/qom)











































